RI Absen di Pemakaman Ali Khamenei, Politik Luar Negeri Dikritik: Indonesia Penakut

RI Absen di Pemakaman Ali Khamenei, Politik Luar Negeri Dikritik: Indonesia Penakut

  • Pemerintah Indonesia dikritik karena hanya mengutus Duta Besar untuk menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran pada Juli 2026.
  • Absennya delegasi setingkat menteri dinilai sebagai anomali kebijakan luar negeri dibanding negara Muslim lain yang mengirimkan perwakilan tinggi.
  • Kementerian Luar Negeri menegaskan kehadiran Duta Besar RI di Teheran merupakan representasi resmi untuk menghormati undangan pihak Pemerintah Iran.

Suara.com - Ketidakhadiran delegasi resmi tingkat tinggi dari Pemerintah Indonesia dalam upacara pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuai kritik tajam. Keputusan Jakarta yang dinilai pasif tersebut memicu keraguan publik atas keteguhan korporasi diplomasi Indonesia dalam menjalankan prinsip politik luar negeri yang bebas dan aktif.

Kritik pedas salah satunya datang dari mantan Wakil Menteri Luar Negeri sekaligus Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal.

Ia mengaku heran terhadap sikap dingin pemerintah yang tidak menyambut baik undangan resmi dari Teheran, padahal Ayatollah Khamenei wafat akibat aksi serangan militer yang dinilai melanggar hukum internasional.

Dino mengungkapkan bahwa otoritas Iran sebenarnya telah berupaya keras melobi Jakarta agar bersedia mengirimkan utusan khusus. Namun, respons yang diberikan dinilai sangat minim hingga akhirnya Indonesia hanya diwakili oleh perwakilan diplomatik setempat.

"Akhirnya, yang hadir hanya Dubes RI di Teheran—yang dianggap oleh Teheran sebagai sikap menyepelekan undangan ini," ungkap Dino dalam keterangannya di media sosial, Minggu (5/7/2026).

Dianggap Kontras dengan Negara Lain

Absennya perwakilan setingkat menteri atau kepala negara dari Indonesia dirasa sangat ironis. Pasalnya, sejumlah kekuatan regional dan global—termasuk negara-negara berpenduduk Muslim seperti Arab Saudi, Turki, Qatar, Malaysia, Oman, Pakistan, hingga Bangladesh—tetap mengirimkan delegasi resmi mereka. Bahkan, Pakistan mengutus langsung presidennya ke Teheran.

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, sikap pasif Indonesia ini dinilai sebagai anomali. Dino mempertanyakan apakah arah kebijakan luar negeri Jakarta saat ini mulai didera rasa takut dan enggan berhadapan dengan tekanan politik dari Amerika Serikat.

Secara eksplisit, ia mengkritisi sikap Indonesia yang belakangan ini seakan makin takut dan tunduk dengan negara yang dipimpin Donald Trump.

"Apakah ini berarti polugri 'bebas aktif' kita mulai luntur karena Indonesia takut atau sungkan terhadap Amerika? Has 'Fear' become a factor in Indonesian foreign policy?" cetus Dino.

Di samping faktor geopolitik global, kolapsnya respons diplomasi ini ditengarai akibat buruknya manajemen birokrasi dan pengambilan keputusan di internal pemerintah.

Menurut Dino, kemacetan administratif di meja-meja birokrasi membuat tidak ada pejabat yang berani mengambil keputusan cepat dalam situasi darurat.

Ia menyayangkan mengapa pemerintah tidak mengutus pejabat setingkat Wakil Menteri Luar Negeri bidang Dunia Islam, seperti Anis Matta, yang alih-alih ke Iran justru sedang melakukan agenda rutin di kawasan Asia Tengah.

Kehadiran utusan resmi di Teheran dianggap krusial sebagai pembuktian bahwa Indonesia berani menyuarakan hukum internasional dan menjaga hubungan persahabatan tanpa harus bersembunyi saat situasi sensitif terjadi.

Dino Patti Djalal (dok. Universitas Katolik Parahyangan)
Dino Patti Djalal (dok. Universitas Katolik Parahyangan)
  • Pemerintah Indonesia dikritik karena hanya mengutus Duta Besar untuk menghadiri pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran pada Juli 2026.
  • Absennya delegasi setingkat menteri dinilai sebagai anomali kebijakan luar negeri dibanding negara Muslim lain yang mengirimkan perwakilan tinggi.
  • Kementerian Luar Negeri menegaskan kehadiran Duta Besar RI di Teheran merupakan representasi resmi untuk menghormati undangan pihak Pemerintah Iran.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri RI memastikan bahwa posisi Indonesia dalam upacara penghormatan tersebut tidak kosong.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Yvonne Mewengkang, mengonfirmasi bahwa pemerintah telah mengutus Duta Besar RI untuk Iran, Rolliansyah Soemirat, sebagai representasi resmi negara.

Yvonne menjelaskan bahwa Dubes RI telah hadir langsung dalam prosesi doa bersama di Grand Mosalla, Teheran, pada Sabtu (4/7/2026) pagi waktu setempat.

Pemerintah Indonesia menyatakan tetap mengapresiasi dan menghormati undangan yang dilayangkan oleh pihak Iran, serta memilih menugaskan kepala perwakilan diplomatik di Teheran sebagai bentuk kehadiran resmi negara.

Folarin Balogun Lolos dari Skorsing, Gedung Putih Disebut Intervensi FIFA
Bola | Senin, 06 Juli 2026 | 02:06 WIB
Kontroversial! FIFA Batalkan Skorsing Folarin Balogun, Trump Ucap Terima Kasih
Bola | Senin, 06 Juli 2026 | 01:44 WIB
Di Balik Pemakaman Ali Khamenei: Simbol Agama dan Pesan Politik yang Menggema ke Dunia
News | Senin, 06 Juli 2026 | 07:05 WIB
Ribuan Pelayat Ayatollah Khamenei Kibarkan Bendera Merah, Serukan Balas Dendam
News | Senin, 06 Juli 2026 | 00:59 WIB
Spesifikasi Pesawat Sukhoi Su-35 Milik Iran yang Disiapkan Oleh Rusia
News | Minggu, 05 Juli 2026 | 18:03 WIB
Pelayat Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Ingin Donald Trump Meninggal Dunia
News | Minggu, 05 Juli 2026 | 12:44 WIB
Danantara Percepat Perampingan BUMN, Libatkan Kejagung hingga BPK
Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 08:34 WIB
Komisi Ojol 8% Berlaku, Pendapatan Naik? Ini Kata Driver Ojol!
Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 07:42 WIB
Perempuan Tak Lagi Perlu Buktikan Mampu, Kini Tantangannya Akses Modal hingga Teknologi
Bisnis | Senin, 06 Juli 2026 | 07:34 WIB
Ekonom: Investor Butuh Kepastian Hukum di Indonesia, Bukan Sekedar Insentif!
Bisnis | Minggu, 05 Juli 2026 | 21:13 WIB
Ekonom Beri Peringatan Soal Kebijakan B50: Lihat Peluang yang Dikorbankan
Bisnis | Minggu, 05 Juli 2026 | 20:43 WIB
Ditantang Putusan MK, Bakom Ungkap Alasan 30 Wamen Tetap Jabat Komisaris BUMN
Bisnis | Minggu, 05 Juli 2026 | 20:07 WIB
IHSG Berpeluang Sentuh 6.000 Pekan Depan, AVIA hingga JPFA Bisa Jadi Pilihan
Bisnis | Minggu, 05 Juli 2026 | 19:56 WIB
BEI Usul Ubah Batas Auto Rejection Saham, Simak Aturan Terbarunya
Bisnis | Minggu, 05 Juli 2026 | 19:46 WIB
Harga Minyak Dunia Bakal Turun Besar-besaran, 'Tandanya' Sudah Muncul
Bisnis | Minggu, 05 Juli 2026 | 17:51 WIB
Jadwal Cum Date 6-7 Juli 2026 dan Daftar 19 Saham Bagi Dividen Minggu Ini