PKB di Usia Ke-28: Saatnya Naik Kelas dari Mesin Elektoral

PKB di Usia Ke-28: Saatnya Naik Kelas dari Mesin Elektoral

JAKARTA, KOMPAS.com - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) genap berusia 28 tahun pada Kamis (23/7/2026).

Selama hampir tiga dekade, partai yang lahir pada awal era Reformasi itu berhasil mempertahankan eksistensinya sebagai salah satu kekuatan politik nasional, dengan perolehan suara yang relatif stabil, kehadiran konsisten di parlemen, serta keterlibatan dalam berbagai pemerintahan.

Namun, bertambahnya usia partai tidak hanya bicara soal kemampuan bertahan dalam kontestasi elektoral.

Di tengah perubahan karakter pemilih, tuntutan politik berbasis gagasan, serta meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas pemerintahan, PKB menghadapi tantangan untuk memperkuat dirinya sebagai institusi politik.

"Kematangan partai tidak hanya diukur dari berapa kali memenangkan pemilu atau memperoleh kursi di parlemen. Indikator yang lebih penting adalah seberapa kuat partai menjadi institusi yang mampu bertahan melampaui figur-figur tertentu," kata Peneliti Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli kepada Kompas.com, Kamis.

Lantas, agenda apa yang perlu disiapkan PKB menuju usia tiga dekade?

Perkuat kaderisasi berbasis merit

Lili Romli menilai, PKB perlu memperkuat fondasi internal, terutama memperkuat kaderisasi berbasis merit.

Sebab, kematangan sebuah partai politik tidak hanya diukur dari kemampuan memenangkan pemilu atau memperoleh kursi di parlemen, tetapi juga dari sejauh mana partai mampu membangun institusi yang bertahan melampaui figur tertentu.

"Perkuat kaderisasi berbasis merit, sehingga promosi kepemimpinan tidak hanya bertumpu pada kedekatan personal, tetapi juga kapasitas dan rekam jejak," kata Lili.

Senada, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi berpandangan, kaderisasi dan regenerasi ini diperlukan karena PKB selama ini telah memiliki modal politik berupa electoral persistence, yakni kemampuan mempertahankan eksistensi dengan memperoleh kursi di parlemen dalam beberapa periode pemilu.

Dalam sistem politik Indonesia yang kompetitif, kemampuan seperti itu bukanlah capaian yang sederhana, melainkan bukti bahwa PKB telah memiliki basis dukungan yang relatif kuat.

Oleh karena itu, modal elektroral tersebut perlu diikuti penguatan kapasitas internal partai lewat regenerasi yang berjalan sistematis.

"PKB perlu memastikan bahwa partai mampu memproduksi kader-kader yang kompeten, bukan hanya untuk memenangkan pemilu, tetapi juga menjalankan pemerintahan dan menghasilkan kebijakan publik," kata dia.

Perkuat identitas berbasis NU

Selain kaderisasi, Burhanuddin berpandangan PKB perlu memperkuat identitas programatik berbasis Nahdlatul Ulama (NU).

Ia tidak memungkiri, selama ini, PKB memiliki modal sosial yang tidak dimiliki banyak partai lain, yakni hubungan historis dengan organisasi kemasyarakatan tersebut.