4 Penyebab Utama Pulau Jawa Diserang Fenomena Suhu Bediding

4 Penyebab Utama Pulau Jawa Diserang Fenomena Suhu Bediding

Jakarta, Beritasatu.com - Setiap memasuki puncak musim kemarau, masyarakat di berbagai wilayah Pulau Jawa kerap merasakan udara malam hingga dini hari yang jauh lebih dingin dibandingkan biasanya.

Kondisi ini dikenal dengan fenomena suhu bediding, yaitu penurunan suhu udara yang umum terjadi pada musim kemarau, terutama di daerah dataran tinggi dan pegunungan. Banyak orang mengira suhu dingin tersebut merupakan tanda cuaca ekstrem atau perubahan iklim yang tidak biasa.

Padahal, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan fenomena suhu bediding merupakan proses alamiah yang terjadi hampir setiap tahun dan berkaitan erat dengan dinamika atmosfer saat musim kemarau.

Lantas, apa sebenarnya penyebab fenomena suhu bediding di Pulau Jawa? Berikut ini penjelasannya.

Fenomena Suhu Bediding Bukan Cuaca Ekstrem

BMKG menjelaskan bediding bukanlah bencana meteorologi maupun fenomena cuaca ekstrem. Bediding merupakan istilah dalam bahasa Jawa, yaitu bedhidhing, yang menggambarkan kondisi ketika udara terasa sangat dingin pada malam hingga pagi hari, sementara pada siang hari cuaca justru panas dan terik.

Fenomena ini biasanya mulai dirasakan pada Juli dan mencapai puncaknya selama Juli hingga Agustus. Dalam beberapa tahun, udara dingin bahkan masih dapat berlangsung hingga September, bergantung pada kondisi musim kemarau di Indonesia.

BMKG juga mencatat berdasarkan pengamatan selama beberapa tahun terakhir, penurunan suhu paling terasa di wilayah bagian selatan Indonesia, khususnya Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Penyebab Fenomena Suhu Bediding menurut BMKG

BMKG menjelaskan terdapat beberapa faktor yang saling berkaitan sehingga menyebabkan udara di Pulau Jawa terasa jauh lebih dingin saat musim kemarau.

1. Angin monsun Australia membawa udara dingin

Penyebab utama fenomena suhu bediding adalah bertiupnya angin monsun Australia atau monsun timur. Pada pertengahan tahun, Australia sedang memasuki musim dingin.

Saat itu terbentuk tekanan udara yang relatif tinggi di Benua Australia sehingga massa udara bergerak menuju Asia melewati wilayah Indonesia.

Karena berasal dari kawasan yang sedang mengalami musim dingin, massa udara tersebut memiliki karakteristik lebih dingin dan sangat kering.

Setelah melintasi Samudra Hindia yang suhu permukaan lautnya juga relatif rendah, udara tersebut kemudian memasuki wilayah Indonesia, terutama bagian selatan khatulistiwa, seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Akibatnya, suhu udara di wilayah-wilayah tersebut menjadi lebih rendah dibandingkan periode lainnya.

Fenomena Bediding

BMKG

2. Kandungan uap air berkurang

Selain membawa udara dingin, angin monsun Australia juga memiliki kandungan uap air yang sangat sedikit. Kondisi ini menyebabkan udara menjadi lebih kering dan peluang terbentuknya awan maupun hujan semakin kecil.

Akibatnya, langit pada musim kemarau cenderung cerah, terutama pada malam hari. Semakin sedikit kandungan uap air di atmosfer, semakin kecil pula kemampuan udara menyimpan panas yang sebelumnya diterima permukaan bumi pada siang hari. Hal inilah yang membuat suhu udara turun lebih cepat setelah matahari terbenam.

3. Langit cerah mempercepat pendinginan permukaan bumi

BMKG menjelaskan minimnya tutupan awan juga menjadi faktor penting yang memicu fenomena suhu bediding. Pada musim hujan, awan berfungsi seperti selimut alami yang membantu menahan panas agar tidak langsung terlepas ke atmosfer.

Sebaliknya, saat musim kemarau langit cenderung bersih dari awan (clear sky). Akibatnya, radiasi panas yang diserap bumi sepanjang siang hari langsung dilepaskan kembali ke atmosfer luar melalui proses yang dikenal sebagai radiational cooling atau pendinginan radiatif.

Karena panas tersebut tidak tertahan oleh awan maupun uap air, suhu udara di dekat permukaan bumi turun dengan cepat sehingga udara malam hingga menjelang pagi terasa jauh lebih dingin.

4. Topografi membuat udara dingin lebih terasa

Faktor berikutnya adalah kondisi geografis atau topografi wilayah. Daerah yang berada di dataran tinggi secara alami memiliki suhu udara lebih rendah dibandingkan dataran rendah.

Ketika dipadukan dengan udara kering dari Australia dan langit yang cerah, suhu di kawasan pegunungan dapat turun jauh lebih ekstrem.

Oleh karena itu, masyarakat yang tinggal di kawasan pegunungan akan merasakan fenomena suhu bediding lebih kuat dibandingkan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir.

Menurut BMKG, topografi dan elevasi yang tinggi berperan dalam mengunci udara dingin sehingga suhu minimum di wilayah tersebut menjadi jauh lebih rendah.

Wilayah yang Paling Terasa Fenomena Suhu Bediding

BMKG menyebut sejumlah wilayah di Pulau Jawa menjadi lokasi yang paling sering mengalami suhu dingin selama musim kemarau. Kawasan dataran tinggi Dieng menjadi salah satu daerah dengan suhu terendah.

Data BMKG menunjukkan suhu di kawasan tersebut pernah mencapai sekitar 0,7 derajat celsius, bahkan mendekati titik beku. Kondisi ini memicu munculnya fenomena embun upas atau embun yang membeku menjadi kristal es di permukaan tanaman.

Selain Dieng, kawasan Gunung Bromo juga mengalami penurunan suhu yang cukup ekstrem. Data Automatic Weather Station (AWS) BMKG mencatat suhu minimum di Bromo pernah mencapai 3,9 derajat celsius, sehingga embun di dedaunan dapat membeku dan tampak seperti lapisan salju tipis.

Wilayah pegunungan lain, seperti Sindoro-Sumbing, Malang, Lembang, dan Bandung Raya juga rutin mengalami penurunan suhu yang cukup signifikan selama musim kemarau.

Menurut BMKG, fenomena suhu bediding umumnya mulai muncul pada Juli dan mencapai intensitas tertinggi pada Juli hingga Agustus. Memasuki masa peralihan menuju musim hujan, kandungan uap air di atmosfer mulai meningkat sehingga pembentukan awan menjadi lebih banyak.

Kondisi tersebut membantu menahan panas di atmosfer sehingga suhu udara malam perlahan kembali menghangat. Dengan kata lain, fenomena ini akan berkurang secara alami ketika musim hujan mulai datang.

BMKG mengimbau masyarakat agar tidak menganggap fenomena suhu bediding sebagai tanda cuaca ekstrem ataupun bencana alam. Meski suhu udara terasa jauh lebih dingin, kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus musim kemarau yang normal di Indonesia.

Fenomena Bediding

BMKG