Jakarta, Beritasatu.com - Pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) menjadi perhatian berbagai kalangan, mulai dari ekonom hingga pelaku industri perbankan. Mundurnya Perry Warjiyo dinilai sebagai perkembangan yang tidak banyak diperkirakan oleh pelaku pasar.
Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, mengatakan sosok yang akan memimpin Bank Indonesia ke depan harus memiliki pengalaman yang kuat, kredibilitas tinggi, serta mampu mengambil kebijakan secara independen di tengah meningkatnya tantangan ekonomi global.
Radhika mengatakan perubahan kepemimpinan tersebut mengejutkan banyak pihak. Bahkan, dalam berbagai forum dan pertemuan bank sentral yang berlangsung pada pekan sebelumnya, belum terlihat indikasi kuat mengenai pergantian gubernur BI.
Saat ini, posisi gubernur BI dijabat sementara oleh Destry Damayanti. Menurut Radhika, Destry merupakan figur yang memiliki kapasitas untuk menjalankan tugas tersebut.
Pengalaman Destry di Bank Indonesia sejak 2019, ditambah rekam jejaknya di berbagai lembaga regulator, dinilai memberikan bekal yang kuat dalam memahami dan merumuskan kebijakan moneter.
"Beliau memiliki perpaduan pengalaman yang sangat baik serta pemahaman yang kuat mengenai pembuatan kebijakan bank sentral. Itu menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas pasar," ungkap Radhika dalam acara diskusi bersama DBS Bank di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Ia menegaskan, siapa pun yang nantinya ditunjuk sebagai Gubernur Bank Indonesia harus memiliki karakteristik yang sama dengan bankir sentral di berbagai negara, yakni berpengalaman, kredibel, serta mampu menjaga independensi dalam setiap pengambilan keputusan.
Radhika juga menyoroti kepemimpinan Perry Warjiyo yang selama hampir delapan tahun dihadapkan pada berbagai tantangan besar, mulai dari pandemi Covid-19, siklus kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada 2022, hingga meningkatnya ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa jabatan gubernur Bank Indonesia tidak hanya berperan sebagai perumus kebijakan moneter, tetapi juga sebagai manajer risiko yang harus mampu merespons berbagai guncangan ekonomi, baik yang berasal dari dalam negeri maupun global.
"Yang dibutuhkan sosok yang berpengalaman, memiliki kredibilitas, dan mampu mengambil keputusan kebijakan secara independen," pungkasnya.