Pantau - Pengamat energi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Feiral Rizky Batubara menilai diversifikasi sumber energi menjadi strategi penting untuk memperkuat ketahanan sistem kelistrikan nasional dan mengantisipasi risiko pemadaman listrik berskala besar atau blackout.
Diversifikasi Energi Dinilai Mampu Cegah Risiko Blackout
Feiral mengatakan penguatan sistem kelistrikan harus dilakukan secara menyeluruh melalui diversifikasi sumber energi serta peningkatan kapasitas pembangkit yang mampu memasok listrik secara stabil.
“Mitigasi risiko blackout perlu dilakukan melalui penguatan sistem kelistrikan secara menyeluruh, termasuk diversifikasi sumber energi dan peningkatan pembangkit yang mampu menyediakan pasokan listrik secara stabil,” katanya.
Menurut Feiral, gangguan pada sistem kelistrikan tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga dapat memberikan tekanan terhadap sektor industri.
Ia menilai panas bumi menjadi salah satu sumber energi yang layak dikembangkan karena memiliki karakteristik pasokan yang stabil.
“Karakternya stabil, dapat beroperasi 24 jam, tidak bergantung pada cuaca dan bisa berperan sebagai baseload di sistem kelistrikan,” ujarnya.
“Antisipasi blackout harus dilihat sebagai agenda besar penguatan sistem. Dalam kerangka itu, panas bumi dapat menjadi salah satu pilar penting karena potensinya tersebar di banyak wilayah Indonesia,” katanya.
Potensi Panas Bumi Masih Besar
Feiral menjelaskan Indonesia memiliki cadangan panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW) atau sekitar 40 persen dari cadangan dunia, namun baru sekitar 2,7 GW atau 12 persen yang telah dimanfaatkan.
“Artinya, masih terdapat ruang pengembangan yang besar, termasuk untuk mengejar tambahan kapasitas sekitar 2,5 GW dalam 10 tahun ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan pengembangan panas bumi perlu didukung penguatan jaringan transmisi dan distribusi, peningkatan cadangan daya, pengembangan Battery Energy Storage System (BESS), penyediaan pembangkit cadangan, digitalisasi jaringan listrik, serta diversifikasi sumber energi.
Menurut Feiral, pengembangan panas bumi juga masih menghadapi tantangan berupa kebutuhan investasi awal yang besar, tarif keekonomian, proses perizinan, dan kesiapan infrastruktur jaringan kelistrikan.
“Diperlukan dukungan kebijakan yang lebih kuat, mulai dari skema pembagian risiko eksplorasi, penyediaan pembiayaan jangka panjang, penyederhanaan perizinan, hingga sinkronisasi antara pengembangan pembangkit dan perencanaan jaringan kelistrikan nasional,” katanya.