Jakarta, Beritasatu.com – Pemerintah melalui Kementerian Transmigrasi telah menerjunkan 1.476 patriot muda dari tim ekspedisi patriot ke 53 kawasan transmigrasi. Ribuan talenta muda asal 10 perguruan tinggi terbaik di Indonesia ini ditugaskan untuk melakukan riset, kajian, serta pendampingan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menjelaskan program ini merupakan langkah berlanjut dari kesuksesan agenda serupa pada 2025 lalu.
“Melalui kolaborasi ini, negara hadir membangun kawasan transmigrasi lewat kekuatan ilmu pengetahuan, menggandeng akademisi dan mahasiswa terbaik bangsa sebagai mitra kerja di lapangan,” ujar Qodari dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (4/8.2026).
Dalam pelaksanaannya, pemerintah menggandeng 10 perguruan tinggi terbaik, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin. Kesepuluh kampus itu turut bekerja sama dengan perguruan tinggi lainnya dalam tim ekspedisi patriot 2026.
“Kemitraan ini merupakan kelanjutan dari tim ekspedisi patriot 2025, dan pada tahun 2026 kemitraan ini bertambah Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin,” kata Qodari.
Kampus mitra memiliki peran strategis mulai dari seleksi administrasi, dukungan akademik, hingga pendampingan teknis selama masa penugasan di lapangan. Sebagai contoh, Universitas Indonesia fokus mendampingi wilayah Werianggi–Werabur, sementara ITB mendampingi kawasan Lereh di Papua.
Qodari menekankan, program ini sekaligus menjadi instrumen penting dalam percepatan pembangunan di wilayah timur Indonesia, khususnya Papua. Dari total peserta, 1.200 orang dialokasikan khusus untuk mendampingi 10 kawasan transmigrasi di Papua.
“Tim tersebut yakni 1.200 orang tim ekspedisi patriot yang diterjunkan saat ini, sekaligus menjadi bentuk afirmasi nyata dari komitmen Presiden Prabowo dalam mempercepat pembangunan dan peningkatan kesejahteraan Papua,” jelas Qodari.
Berbeda dari program bantuan sosial umum, ekspedisi patriot dirancang berbasis kebutuhan riil di lapangan. Terdapat 11 tema riset spesifik yang diusung, mulai dari reforma agraria, hilirisasi industri, hingga pengembangan energi terbarukan.
“Negara memastikan hasil riset tim ekspedisi patriot menjadi bahan rekomendasi kebijakan yang ditindaklanjuti secara berkelanjutan, bukan proyek sekali jalan. Hasil-hasil riset akan menjadi pijakan bagi lahirnya kebijakan yang tepat sasaran, berdampak nyata, dan berkelanjutan bagi masyarakat,” tegas Qodari.
Melalui sinergi erat antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat lokal, kawasan transmigrasi diharapkan tidak hanya berkembang secara fisik, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan berdaya saing.