San Francisco, Beritasatu.com - OpenAI kembali menarik perhatian dunia teknologi setelah mengungkap keberadaan model kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) generasi terbaru bernama Astra.
Meski belum resmi diluncurkan ke publik, perusahaan mengungkap model internal tersebut berhasil mencetak terobosan dengan menemukan solusi untuk 10 persoalan matematika dan ilmu komputer teoretis yang telah menjadi tantangan peneliti selama lebih dari satu dekade.
Pengumuman ini muncul hanya beberapa minggu setelah OpenAI merilis seri model GPT-5.6. Saat pertama kali diperkenalkan sekitar lima minggu lalu, model tersebut hanya tersedia bagi sejumlah pelanggan karena adanya pembatasan pemerintah Amerika Serikat (AS).
Memasuki Juli, akses terhadap GPT-5.6 kemudian diperluas sehingga dapat digunakan oleh lebih banyak pengguna. Tak lama setelah itu, OpenAI juga memperbarui infrastruktur inferensi GPT-5.6.
Pembaruan tersebut membuat biaya penggunaan model GPT-5.6 Luna turun hingga 80%, sementara tarif GPT-5.6 Terra dipangkas sekitar 20%, sehingga model-model tersebut menjadi lebih terjangkau bagi pengembang maupun perusahaan.
Di tengah pengembangan seri GPT-5.6 tersebut, OpenAI mulai memberikan gambaran mengenai model AI berikutnya yang sedang disiapkan, yaitu Astra.
Astra Jadi Kandidat Model AI Besar Berikutnya dari OpenAI
Dikutip dari Neowin, nama Astra pertama kali muncul dalam sebuah tulisan resmi OpenAI berjudul Ten Advances in Mathematics and Theoretical Computer Science.
Dalam publikasi tersebut, perusahaan menyebut seluruh pencapaian matematika yang dipaparkan berhasil diraih menggunakan versi internal Astra, yang disebut sebagai model utama berikutnya milik OpenAI.
Meski demikian, perusahaan belum mengungkap nama resmi produk yang nantinya akan dirilis ke publik. Belum diketahui apakah Astra akan hadir sebagai bagian dari keluarga GPT-5.6, menjadi GPT-6, atau justru menggunakan identitas baru tanpa embel-embel GPT.
Jika melihat pola penamaan model OpenAI saat ini, Astra tampaknya masih berkaitan dengan seri GPT-5.6. Sebelumnya, OpenAI telah menggunakan nama Terra, Luna, dan Sol, yang masing-masing berasal dari bahasa Latin dengan arti bumi, bulan, dan matahari.
Sementara itu, Astra berarti bintang, sehingga dianggap masih mengikuti pola penamaan yang sama.
Mampu Menyelesaikan Masalah yang Tak Terpecahkan
Untuk menguji kemampuan Astra, OpenAI sengaja memilih persoalan yang tidak mengalami kemajuan berarti selama sedikitnya sepuluh tahun. Seluruh masalah berasal dari berbagai cabang matematika dan ilmu komputer teoretis yang dikenal sangat kompleks.
Bidang yang menjadi fokus pengujian meliputi geometri berdimensi tinggi, teori pengkodean, teori grup, kompleksitas kuantum, kriptografi berbasis kisi, aljabar operator, hingga kombinatorik ekstrem.
Menurut OpenAI, Astra berhasil menemukan solusi terhadap seluruh persoalan tersebut tanpa memerlukan sumber daya komputasi yang sangat besar.
Perusahaan mengungkapkan total token yang digunakan untuk memperoleh kesepuluh solusi itu diperkirakan hanya memerlukan biaya sekitar US$ 2.000, atau sekitar Rp 36 juta dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS apabila dihitung menggunakan tarif API GPT-5.6 Sol.
Setelah solusi ditemukan, OpenAI kembali memanfaatkan model yang sama untuk menyusun argumen ilmiah dalam bentuk manuskrip penelitian.
Dengan demikian, hasil yang diperoleh tidak hanya berupa jawaban, tetapi juga penjelasan lengkap yang dapat ditinjau oleh komunitas akademik.
Bukti Matematika Diverifikasi Menggunakan Lean
Salah satu aspek yang paling disorot OpenAI adalah kemampuan Astra dalam memformalkan seluruh argumen matematis menggunakan Lean, yakni sistem pembuktian teorema (theorem prover) yang banyak digunakan dalam penelitian matematika modern.
Melalui Lean, setiap langkah pembuktian dapat diverifikasi secara formal oleh komputer sehingga meminimalkan kemungkinan kesalahan logika maupun kekeliruan dalam proses pembuktian.
OpenAI menyatakan telah menerbitkan manuskrip penelitian, sertifikat Lean, serta seluruh jejak penalaran (reasoning traces) yang dihasilkan model selama menyelesaikan 10 persoalan tersebut.
Perusahaan berharap komunitas matematika internasional dapat meninjau hasil tersebut secara independen, mengevaluasi tingkat signifikansinya, sekaligus mengembangkan berbagai ide baru yang muncul dari penelitian tersebut.
Daftar Persoalan Dipilih dari Berbagai Bidang Matematika
OpenAI menjelaskan seluruh persoalan yang dipilih bukan sekadar soal matematika biasa. Masalah-masalah tersebut telah lama menjadi topik penelitian ilmuwan dan mencakup berbagai disiplin ilmu yang sangat spesialis.
Kesepuluh persoalan itu berasal dari bidang geometri berdimensi tinggi, teori kode, teori grup, kompleksitas rangkaian aritmatika, teori permainan kuantum, kriptografi pascakuantum, geometri diskrit, teori Ramsey, hingga teori graf ekstrem.
Pada bagian berikutnya, OpenAI menguraikan satu per satu terobosan yang berhasil dicapai Astra, mulai dari batas baru pada masalah pengepakan bola berdimensi tinggi hingga penyelesaian beberapa persoalan terkenal yang selama puluhan tahun masuk dalam daftar masalah terbuka karya matematikawan legendaris Paul Erdős.
10 Terobosan Matematika yang Berhasil Diselesaikan Astra
OpenAI mengungkapkan Astra tidak diuji menggunakan soal matematika biasa. Perusahaan secara khusus memilih persoalan-persoalan yang telah lama menjadi tantangan bagi komunitas ilmiah dan tidak mengalami kemajuan signifikan terhadap hasil utamanya selama sedikitnya satu dekade.
Seluruh masalah tersebut berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari geometri berdimensi tinggi, teori pengkodean, teori grup, kompleksitas komputasi, teori permainan kuantum, kriptografi pascakuantum, hingga kombinatorik ekstrem.
Berikut ini 10 terobosan yang diklaim berhasil dicapai Astra.
1. Batas baru untuk pengepakan bola berdimensi tinggi
Astra menemukan batas atas (upper bound) baru terhadap kepadatan sphere packing atau pengepakan bola pada dimensi tinggi hingga mencapai ambang batas Cohn–Elkies.
Masalah ini telah lama menjadi salah satu topik penting dalam geometri berdimensi tinggi karena berkaitan dengan cara menyusun objek berdimensi banyak seefisien mungkin tanpa saling bertumpukan.
2. Kemajuan pada kode biner dan kode bola
Model tersebut juga menghasilkan batas eksponensial baru terhadap ukuran maksimum kode biner dengan jarak minimum tertentu. Selain itu, Astra memperoleh hasil serupa untuk kode bola (sphere codes) berdimensi tinggi yang memiliki keterkaitan erat dengan teori komunikasi digital, koreksi kesalahan (error-correcting codes), dan penyimpanan data.
3. Membuktikan keberadaan kelompok nonsofis
Salah satu pencapaian yang paling menarik adalah konstruksi matematis yang menunjukkan keberadaan kelompok nonsofis. Hasil ini menjawab salah satu pertanyaan terbuka paling penting dalam teori grup yang selama bertahun-tahun belum berhasil diselesaikan para matematikawan.
4. Membantah dugaan kekakuan Connes
Astra juga menghasilkan pembuktian yang membantah Connes Rigidity Conjecture. Konjektur tersebut sejak lama menyatakan bahwa kelompok tertentu dapat ditentukan secara unik melalui aljabar von Neumann yang dimilikinya. Melalui hasil baru ini, asumsi tersebut tidak lagi berlaku secara umum.
5. Batas baru pada kompleksitas rangkaian aritmatika
Dalam bidang kompleksitas komputasi, Astra menemukan batas bawah baru untuk menghitung fungsi permanen menggunakan rangkaian maupun rumus aritmatika. Salah satu hasil pentingnya adalah pembuktian batas bawah rumus aritmatika dengan orde n⁴/log n, yang menjadi kemajuan berarti dalam teori kompleksitas komputasi.
6. Terobosan pada pengulangan paralel kuantum
Model ini juga berhasil membuktikan teorema exponential parallel repetition untuk permainan kuantum dua pemain yang bersifat umum. Temuan tersebut memperluas prinsip dasar yang selama ini dikenal dalam teori kompleksitas klasik ke ranah komputasi kuantum.
7. Kemajuan pada masalah vektor terdekat
Astra menghasilkan pembuktian baru mengenai tingkat kesulitan pendekatan faktor polinomial untuk nearest vector problem (NVP). Masalah ini merupakan salah satu fondasi dalam teori kisi (lattice theory) dan memiliki peran penting dalam pengembangan sistem kriptografi pascakuantum.
8. Menentukan volume maksimum pada dugaan Ehrhart
Pada persoalan Ehrhart Volume Conjecture, Astra menentukan volume maksimum yang mungkin dimiliki suatu benda cembung pada setiap dimensi ketika pusat massanya menjadi satu-satunya titik kisi di bagian interior objek tersebut. Hasil ini memberikan jawaban baru terhadap salah satu persoalan klasik dalam geometri diskrit.
9. Menyelesaikan masalah bilangan Ramsey warna-warni
Dalam teori Ramsey, Astra memperoleh batas bawah supereksponensial untuk bilangan Ramsey segitiga multicolor. OpenAI menyebut hasil tersebut sekaligus menyelesaikan masalah Erdős nomor 183, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu persoalan terbuka terkenal dalam kombinatorik.
10. Menjawab dugaan bilangan ekstrem
Terobosan terakhir berkaitan dengan teori graf ekstrem. Astra menghasilkan pembuktian mengenai konjektur kekompakan (compactness conjecture) dan degenerasi yang sekaligus menyelesaikan masalah Erdős nomor 146 dan 180, dua persoalan yang telah lama menjadi perhatian komunitas matematika internasional.
OpenAI Membuka Seluruh Hasil Penelitian kepada Publik
Berbeda dengan penelitian AI yang biasanya hanya dipublikasikan dalam bentuk ringkasan, OpenAI memutuskan membuka seluruh hasil penelitian tersebut kepada komunitas akademik.
Perusahaan menerbitkan manuskrip ilmiah, sertifikat Lean, hingga jejak penalaran (reasoning traces) yang dihasilkan Astra selama menyusun pembuktian.
Dengan langkah tersebut, para matematikawan di berbagai negara dapat meninjau setiap argumen secara independen, memverifikasi signifikansi hasilnya, sekaligus mengembangkan penelitian lanjutan berdasarkan ide-ide yang ditemukan model.
Astra Diperkirakan Menjadi Model AI Berikutnya OpenAI
Pengungkapan Astra juga memunculkan spekulasi mengenai model AI besar berikutnya dari OpenAI. Laporan The Information, yang mengutip sejumlah sumber anonim, sebelumnya menyebut OpenAI tengah mengembangkan model dengan kemampuan menjalankan pekerjaan kompleks dalam durasi panjang (long-running work).
CEO OpenAI, Sam Altman, bahkan dilaporkan sempat mendemonstrasikan kemampuan model tersebut kepada sejumlah pejabat Pemerintah Amerika Serikat di Washington, DC.
Meski begitu, OpenAI belum mengonfirmasi nama resmi produk yang akan dipasarkan. Perusahaan juga belum menjelaskan apakah Astra akan dirilis sebagai bagian dari keluarga GPT-5.6, menjadi GPT-6, atau menggunakan identitas baru.
OpenAI turut menegaskan Astra berbeda dengan prototipe penelitian internal yang sempat disebut dalam laporan mengenai simulasi insiden siber terhadap platform Hugging Face.