Mitologi "Kepemimpinan Kancil Prabowo" Vs Epistemologi "Adaptive Leadership"

Mitologi "Kepemimpinan Kancil Prabowo" Vs Epistemologi "Adaptive Leadership"

ISTILAH "pemimpin kancil" mendadak menjadi sorotan publik setelah Presiden Prabowo Subianto berkelakar, Indonesia memiliki sejumlah tokoh politik yang dinilainya merepresentasikan karakter tersebut.

Presiden Prabowo Subianto sempat berkelakar, Indonesia memiliki tiga tokoh yang disebutnya sebagai pemimpin kancil, yaitu Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, dan Ketua Umum Partai Golongan Karya Bahlil Lahadalia.

Namun, muncul pertanyaan mendasar: Apakah sebutan "kancil" ini sekadar bahan candaan panggung, ataukah sebuah pengakuan terbuka atas realitas politik transaksional di Indonesia?

Prabowo kala itu memang tidak menjelaskan secara rinci makna filosofis maupun sosiologis di balik sebutan tersebut.

Ia hanya sempat menyinggung kecerdikan Muhaimin Iskandar usai kader Partai Kebangkitan Bangsa menggunakan pakaian bertuliskan ‘Prabowonomics’ pada Puncak Peringatan Hari Lahir PKB ke-28 (Kompas.com, 23 Juli 2026).

Sementara Partai Gerindra yang merupakan partainya sendiri justru tidak pernah menggunakan kaus bertuliskan hal serupa. Prabowo kemudian turut menyinggung Dasco terkait dinamika tersebut. 

Menurutnya, Dasco dulunya merupakan seorang provokator sebelum ia tarik ke lingkaran politiknya, serta memperingatkan bahwa ketiga figur tersebut akan mendatangkan situasi rumit jika berkumpul dalam satu aliansi sama.

Dalam kesempatan berbeda, Prabowo memang kerap menyebutkan, panggilan akrab Dasco adalah kancil, kendati tidak mengelaborasi maknanya secara mendalam.

Dalam tradisi cerita fabel Nusantara, kancil secara tradisional dilekatkan pada figur hewan cerdik, lincah, dan terkadang licik, di mana karakter tersebut mempunyai banyak cara, ide, serta akal untuk mengelabui lawan-lawannya, sekaligus merepresentasikan sosok yang mampu memperdaya pihak lain yang memiliki kekuasaan lebih besar.

Lantas, bagaimana kita harus membaca fenomena ini dari sudut pandang akademis?

Apakah mitologi lokal tentang kancil memiliki padanan teoretis dalam diskursus kepemimpinan global?

Berbeda dengan mitologi lokal Nusantara tersebut, adanya gap konseptual dapat dijembatani dengan pemahaman bahwa konsep kepemimpinan modern (seperti metafora Rubah atau kerangka Adaptive Leadership) memiliki landasan teoretis sangat kuat dalam literatur politik dan sosiologi global, termasuk melalui berbagai kajian di universitas-universitas terkemuka dunia:

Teori The Trickster dalam Politik

Dalam bidang antropologi politik dan sosiologi, karakter yang menyerupai kancil dikenal sebagai The Trickster, yakni sosok penipu cerdik, licin, serta piawai membalikkan keadaan melalui berbagai siasat pintar.

Sejumlah akademisi politik, sebagaimana dibahas dalam literatur sosiologi politik modern bertajuk Modern Leaders: Between Charisma and Trickery, mengkaji bagaimana figur pemimpin tertentu menerapkan pendekatan logika penipu atau trickster logic.

Pendekatan ini merujuk pada bentuk kepemimpinan yang menyandarkan kekuatannya pada keluwesan taktik, kelihaian dalam mengecoh lawan tanding, keberanian keluar dari aturan yang kaku, serta kepiawaian dalam bernavigasi di tengah krisis tanpa harus terikat secara ketat pada doktrin ideologi tertentu.