Messi Menyundul Takdir atau Yamal Mencuri Trofi?

Messi Menyundul Takdir atau Yamal Mencuri Trofi?

SAMA seperti Diego Armando Maradona, Lionel Messi berkali-kali patah hati oleh Jerman.

Maradona mengalaminya di final Piala Dunia 1990, terjungkal oleh gol penalti Andreas Brehme.

Mimpi "dewa" sepak bola Argentina itu untuk juara back to back patah berkeping-keping.

Messi patah hati tiga kali oleh Jerman. Yang pertama, saat debut di Piala Dunia 2006.

Di perempat final, Der Panzer melukai Argentina lewat adu penalti heroik dengan protagonis Jens Lehmann. 

Kiper Jerman ini menggagalkan tendangan dua pemain tim Tango dengan contekan berisi kebiasaan pemain Argentina menendang bola berikut arahnya.

Pada debutnya itu, Messi melesakkan satu gol untuk menyudahi Serbia dan Montenegro, 6-0 di babak grup.

Yang kedua, Messi bareng Maradona (ketika itu sudah jadi pelatih Argentina), kembali merana di tangan Jerman di perempat final Piala Dunia 2010. Jerman menggunduli Argentina, 4-0. 

"Persatuan" antara dewa dan megabintang bola agar membawa Argentina juara dunia patah lagi.

Saya termasuk remuk redam menyaksikan gawang Argentina digelontor empat gol oleh Jerman.

Ternyata Maradona gak bertuah sebagai peracik taktik. Dan Messi gagal menampilkan sihir yang diharapkan pecandu bola.

Padahal turnamen di Afrika Selatan cuma setahun dari kiprah emasnya mengantar Barcelona juara Liga Champions 2008/2009.

Dan yang ketiga, kok ya terjadi di final Piala Dunia 2014? Berusia 27 tahun, Lionel Andres Messi Cuccitini sedang di masa emas sebagai pesepak bola.

Namun, stadion Maracana di Rio de Janiero, Brasil justru menjadi momen kelam Argentina. Sekali lagi Messi dkk takluk dari Jerman, 0-1.

Messi merana, tapi jepretan Bao Tailiang (dari Chengdu Economic Daily, China) dengan obyek Messi justru dinobatkan sebagai foto terbaik olahraga tahun 2014.

Bao membidik dengan tepat momen Messi menatap trofi Piala Dunia dari dekat lekat-lekat selepas dipecundangi Jerman.

Karena sinarnya tak kunjung terang bareng tim nasional Argentina, seusai gagal di final Copa America 2016, Messi sempat menyiratkan pensiun. "Buat saya tim nasional selesai," kata Messi.

Hal itu diulangi setelah dihantam Prancis, 4-3, di 16 besar Piala Dunia 2018 (Rusia).

Pernyataan Messi menyiratkan frustrasi mendalam. Saya juga melipat harapan tentang Messi bakal menggendong Argentina merampas trofi Piala Dunia.

Pada 25 November 2020, saat dunia diterjang pandemi Covid-19, Maradona berpulang. Seluruh Argentina berduka, juga pecinta bola dunia. 

Dua tahun setelah itu, Messi dkk melawan takdir.

Di Qatar tahun 2022, perhelatan Piala Dunia digeser ke akhir tahun. Justru itulah peruntungan Messi. 

Pada usia ke-35, ia justru memetik kebahagiaan untuk negaranya. Messi menginspirasi Argentina untuk menyikat Prancis (4-2) via adu penalti.

Duel itu akan dikenang sebagai final atraktif. Pecinta bola riang. Enam gol tercipta dalam 120 menit.

Argentina membalas dendam di waktu yang benar seusai kekalahan atas Kylian Mbappe dkk di tahun 2018. Qatar yang panas tak mampu merontokkan nyali Argentina.