Gresik, Beritasatu.com - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf mengungkapkan rekrutmen siswa sekolah dasar (SD) masih menjadi tantangan utama penyelenggaraan sekolah rakyat. Banyak kuota jenjang SD di berbagai daerah belum terpenuhi karena faktor anak yang belum siap berpisah dari orang tua.
"Ya memang di usia tersebut yang seharusnya masih dengan orang tuanya dan lain sebagainya. Maka itu Bapak presiden meminta ke kita untuk memfasilitasi pertemuan antara orang tua dan siswa di sekolah rakyat," kata Saifullah yang akrab disapa Gus Ipul, seusai meninjau sekolah rakyat terintegrasi di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Senin (3/8/2026).
Gus Ipul menegaskan, mengaku sudah mempersiapkan kurikulum khusus bagi para siswa SD di sekolah rakyat. Meskipun sekolah rakyat memiliki konsep boarding school atau berasrama, orang tua siswa SD dipersilakan setiap saat jika ingin bertemu dengan anak-anaknya.
Sedangkan untuk jenjang SMP dan SMA, para siswa tetap melaksanakan kurikulum boarding school. "Memang untuk SD pendekatannya berbeda dengan SMP maupun SMA. Jadi ini semua sudah dirancang kurikulumnya," jelasnya.
Lanjut dia, para guru di sekolah rakyat juga dipastikan memiliki pedoman lengkap mengajar siswa SD. Pihaknya menegaskan ada tiga hal yang tidak boleh terjadi di sekolah rakyat yakni perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, dan intoleransi.
Sementara itu, Kemensos turut mengapresiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik yang berhasil memenuhi kuota siswa semua jenjang sekolah rakyat mulai SD, SMP, dan SMA.
Siswa sekolah rakyat terintegrasi berada di Desa Racitengah, Kecamatan Sidayu, Gresik, itu terbagi secara merata ke dalam tiga jenjang pendidikan, yakni 90 siswa SD, 90 siswa SMP, dan 90 SMA.
"Terima kasih bupati Gresik, meskipun pembangunan SRT belum rampung 100% tetapi sudah bisa ditempati dan memenuhi kuota di masing-masing jenjang," pungkasnya.