JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono merespons kabar pengadaan kipas angin untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang nilainya disebut mencapai Rp 1,8 triliun.
Saat ditanya mengenai anggaran kipas angin tersebut, Ferry mengatakan, kipas yang dimaksud bukan kipas angin plastik seperti yang umum digunakan di kamar kos.
“Ah, itu kipas anginnya bukan kipas angin kos-kosan, itu kipas angin, kalau kipas angin kos-kosan yang plastik,” ucap Ferry, saat ditemui di TMII, Jakarta Timur, Kamis (16/7/2026).
Namun, Ferry mengaku tidak mengetahui detail pengadaan tersebut.
Ia menegaskan pengadaan itu bukan berada di bawah kewenangan Kementerian Koperasi.
“Saya kurang tahu, itu bukan di Kementerian Koperasi,” kata dia.
Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara Joao Angelo de Sousa Mota juga merespons soal kabar pengadaan kipas angin Kopdes Merah Putih senilai Rp 1,8 triliun.
Penjelasan ini disampaikan Joao saat menjawab soal anggota Komisi VI DPR Fraksi PDI-P Mufti Anam yang mempertanyakan pengadaan tersebut dalam rapat bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Joao mengaku prihatin karena melihat anggota dewan berani berbicara di depan publik tanpa mendapatkan data-data yang dia sebut sebagai prudent.
“Sehingga sebetulnya, itu sebetulnya sikap-sikap beliau seperti itu sangat merendahkan dan tidak menjunjung tinggi kehormatan badan Dewan Perwakilan Rakyat,” ucap Joao, saat ditemui di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis (16/7/2026).
“Di mana itu orang-orang yang kita pilih, dipilih oleh rakyat, orang-orang yang terbaik harusnya sebelum mereka bicara, mereka harus mengumpulkan data yang benar-benar sehingga tidak menjadi hanya narasi-narasi kosong yang hanya memprovokasi masyarakat,” tambah dia.
Joao mengajak semua pihak bersatu untuk mendukung pembangunan desa, alih-alih saling melontarkan tudingan yang dinilai tidak berdasar.
Saat ditanya apakah kabar pengadaan kipas angin senilai Rp 1,8 triliun itu tidak benar, Joao enggan memberikan jawaban tegas.
Ia justru meminta pihak yang menyampaikan tudingan tersebut menjelaskan sumber datanya.
“Kan harus ada ketepatan, harus ada kebenaran, dan harus ada kejujuran daripada data itu. Karena kalau tidak, menjadi satu fitnah yang seolah-olah hanya memprovokasi masyarakat,” ucap dia.