SEBUAH video pendek beredar di media sosial pertengahan Juni 2026, memperlihatkan bangunan bercat merah putih berdiri sendirian di tengah hutan Wonogiri, dikelilingi pepohonan tanpa satu pun rumah penduduk di sekitarnya.
Perekam video bertanya lirih, mengapa koperasi desa dibangun di tempat seperti ini.
Warganet ramai berspekulasi, sebagian yakin itu kandang ternak yang kebetulan dicat warna bendera, sebagian lain menjulukinya "hidden gem" karena letaknya yang asri dan sepi, dan ada pula yang mengaitkannya dengan hal mistis karena dekat perkuburan.
Belakangan pengelola setempat membantah anggapan tengah hutan itu, menyebut lokasi sebenarnya berjarak kurang dari seratus meter dari permukiman dan sekadar tampak terpencil dari sudut pengambilan gambar.
Namun bantahan semacam ini tidak menghentikan gelombang video serupa dari berbagai daerah lain yang terus bermunculan sepanjang Juni dan Juli 2026.
Di Desa Girimukti, Kabupaten Lebak, Banten, sebuah gerai koperasi berdiri megah di tengah perbukitan berhutan, dengan akses jalan tanah merah bertanjakan curam yang licin ketika hujan.
Di Ngawi, sebuah kantor koperasi dibangun menghadap langsung ke kawasan bertebing curam.
Di Kabupaten Lamongan, pintu utama sebuah gerai koperasi mengarah tepat ke area pemakaman umum, menciptakan suasana yang oleh warga sendiri disebut cukup menyeramkan menjelang petang.
Sementara di Kendal, koperasi dibangun di dataran tinggi yang hanya bisa dicapai lewat jalur menanjak, memberi pengalaman kunjungan yang oleh warganet dijuluki "lebih mirip trekking daripada belanja kebutuhan pokok."
Video-video dari kelima lokasi ini menyulut komentar bernada satir, sebagian warganet menyarankan agar pengunjung koperasi membawa perlengkapan hiking lengkap, sepatu gunung, tongkat trekking, dan bekal air minum, sebagai syarat wajib sebelum mengunjungi gerai yang seharusnya menjadi pusat belanja harian warga desa.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono, pada 2 Juli 2026, menanggapi persoalan ini dengan kalkulasi yang terdengar meyakinkan di atas kertas.
Dari sekitar 30.000 unit Koperasi Desa Merah Putih yang sedang dibangun, katanya, tidak sampai 10 titik yang lokasinya bermasalah.
"Itu kan sedikit persentasenya, nanti kita pikirin, kita carikan solusinya,” ujarnya, seolah warga di lima lokasi tadi cukup dihibur oleh fakta bahwa nasib mereka hanyalah kesalahan pembulatan dalam laporan kinerja kementerian.
Namun angka nol koma nol sekian persen ini menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih serius ketimbang polemik salah pilih lokasi.
Di Langgenharjo, Pati, warga bernama Didik Mulyono mengungkap kronologi yang jarang disebut dalam pembelaan resmi.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.