Membaca Arah Bola Panas "Demo Bayaran" yang Digaungkan Prabowo, Siapa yang Dimaksud?

Membaca Arah Bola Panas "Demo Bayaran" yang Digaungkan Prabowo, Siapa yang Dimaksud?

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto mengaku mengetahui siapa pihak yang mendalangi demonstrasi yang terjadi beberapa waktu belakangan.

Dalam pernyataannya, Prabowo memberi peringatan pada pihak-pihak di balik layar yang menggerakkan demonstrasi.

Guru besar komunikasi politik UGM Nyarwi Ahmad menilai, pernyataan Prabowo soal mengetahui siapa di belakang demonstrasi kemungkinan besar bukan ditujukan ke PDI-P, melainkan mengarah ke lingkaran internal pemerintahan sendiri, termasuk wakil presidennya.

Setidaknya ada dua indikator yang melandasinya. Pertama, dalam beberapa kesempatan, Prabowo secara terbuka mengapresiasi posisi PDI-P sebagai kekuatan penyeimbang di luar pemerintahan.

Kedua, hubungan personal antara Prabowo dan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri sejauh ini relatif terjaga dengan baik.

“Karena tidak ada satupun dari orang yang dianggap inner circle presiden itu mengkritik atau menyerang posisi PDI-P. Yang kita lihat kan justru partai-partai pendukung yang kemudian mempersoalkan,” sebut Nyarwi, saat dihubungi Kompas.com, Kamis (25/6/2026).

“Belum lagi kalau kita lihat Presiden itu hubungan personal dengan Bu Mega terjalin dengan baik, dalam beberapa pidato kemarin bahkan dia menyampaikan ucapan terima kasih. Pidato sebelumnya juga memberikan respek pada PDI-P sebagai partai di luar kekuasaan. Jadi kita kan melihat itu dari fakta-fakta yang ada saja,” sambung dia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro melihat dinamika ini sebagai bagian dari ketegangan antarelite politik yang sedang meningkat menjelang 2029.

Menurut dia, masing-masing kubu mulai bersikap lebih realistis dan berhati-hati satu sama lain, termasuk kubu Solo (Jokowi-Gibran) maupun kubu lain seperti Cikeas dan Teuku Umar, yang dinilainya masih dalam posisi mengamati perkembangan situasi.

"Karena masing-masing punya kepentingan, suka atau tidak, bahwa nalar politik 2029 sudah mulai muncul dan masing-masing kutub semakin realistis. Contohnya kutub Solo, untuk diajak lagi kan sepertinya berat. Kedua, kutub Teuku Umar, Cikeas, Lebak Bulus bahkan, itu juga wait and see,” ujar dia.

Menurut Agung, pernyataan Prabowo lebih tepat dibaca sebagai bentuk peringatan kepada pihak-pihak yang berpotensi mengorkestrasi demonstrasi, agar berhati-hati karena ada konsekuensi jika melewati batas tertentu.

“(Prabowo) mengingatkan saja pada kutub-kutub politik yang hari ini eksis untuk hati-hati dalam bertindak, dalam mengorkestrasi demonstrasi. Karena beliau tahu batas. Kalau mereka melewati batas itu berarti mereka siap dengan konsekuensi-konsekuensi politis, yuridis, ataupun hal lain semacam itu,” imbuh dia.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.