Israel kini dicap melihat Turki bak Iran kedua lantaran memunculkan ancaman keamanan bagi negaranya.
Media Israel Maariv bahkan menilai bagi pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini ancaman Turki lebih besar dari Iran, yang selama ini dicap musuh terbesar Tel Aviv.
Maariv, dalam laporan yang dikutip Middle East Eye, mempublikasikan artikel analisis soal tantangan jangka panjang dan besar bagi Israel. Mereka lalu menyimpulkan Turki saat ini menjadi tantangan yang lebih bahaya ketimbang Iran.
Mengapa media Israel mencap Turki lebih bahaya ketimbang Iran?
Artikel tersebut menyoroti posisi Teruki sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar kedua di NATO. Analisis koran itu juga mencatat bahwa Ankara telah mencapai tingkat kemandirian sekitar 80 persen dalam sektor pertahanannya.
Menurut laporan Maariv, kemajuan pesat dalam produksi persenjataan domestik dan teknologi militer Turki ini telah secara signifikan memperkuat posisi strategis negara tersebut di kawasan.
Analisis itu juga menyebut para pembuat kebijakan Israel kini semakin memperhatikan meningkatnya pengaruh dan kapabilitas Ankara, di samping berbagai kekhawatiran keamanan regional yang selama ini lebih tradisional.
Hubungan Turki-Israel juga sempat tegang usai pasukan Zionis meluncurkan agresi brutal ke Palestina pada Oktober 2023. Turki bahkan beberapa kali memutus hubungan dagang hingga komunikasi diplomatik imbas tingkah laku Israel terutama soal Palestina.
Hubungan mereka kian panas gegara Israel menyerang warga dan fasilitas sipil di Jalur Gaza. Turki murka dan mengecam bahkan sempat mendeklarasikan masa berkabung selama tiga hari saat rumah sakit terbesar di Gaza dibom.
Presiden Reccep Tayyip Erdogan bahkan pernah mengatakan Turki harus jadi negara kuat untuk membantu Palestina melawan Israel. Pernyataan ini sekaligus menjadi tanda putus asa dia karena organisasi dan komunitas internasional tak kunjung bergerak menyelesaikan agresi di Gaza.
Sementara itu, analisis Maariv bahkan melaporkan ancaman paling signifikan dalam konfrontasi dengan Israel bisa muncul dari Angkatan Laut Turki karena kapal selam mereka.
Turki disebut sudah membangun basis industri pertahanan canggih yang mampu memproduksi sebagian besar kebutuhan militernya, sekaligus mengembangkan sistem pertahanan udara berlapis yang sebagian besar menggunakan teknologi domestik.
Negara pimpinan Erdogan ini juga berada di urutan kedua di NATO sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar.
Turki memang sedang mengembangkan persenjataan dan kemampuan militer dalam beberapa waktu terakhir.
Menurut situs militer, Global Fire Power, Turki menduduki peringkat 9 dari 145 negara di dunia terkait kekuatan militer. Sementara itu, Israel ada di urutan 15.
Turki memiliki lebih dari satu juta personel militer. Lebih rinci, 401.500 personel Angkatan Darat, 100.000 personel Angkatan Laut, 52.580 personel Angkatan Udara, 380.000 personel cadangan, dan 150.000 paramiliter.
Di Angkatan Udara, mereka memiliki 1.101 unit pesawat, 201 pesawat tempur, 84 pesawat angkut, 301 pesawat latihan, 27 pesawat misi khusus, 7 kapal tanker, 509 helikopter, dan 111 helikopter serang.
Di Angkatan Darat, Turki memiliki 98.193 kendaraan, 2.284 tangki, 1.045 artileri, 635 artileri tarik,dan 237 artileri tarik (MRLS)
Sementara itu, Angkatan Laut punya total aset 192, 9 corvet, 1 helikopter carrier, 4 frigat, 14 kapal selam, 11 kapal ranjau, dan 40 kapal patroli.