Liga Tarkam, Warisan yang Terlalu Berharga untuk Diabaikan

Liga Tarkam, Warisan yang Terlalu Berharga untuk Diabaikan

SETIAP empat tahun sekali, dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan Piala Dunia. Jalanan lengang ketika pertandingan besar berlangsung. Kafe penuh oleh penonton yang mengenakan jersey negara favoritnya. 

Media massa hingga sosial dipenuhi statistik, analisis taktik, hingga perdebatan siapa yang layak menjadi juara dunia.

Di panggung itu, sepak bola tampil sebagai industri bernilai miliaran dolar, didukung stadion megah, teknologi VAR, hak siar yang fantastis, dan pemain dengan nilai transfer yang melampaui anggaran sebuah kota kecil.

Namun, Indonesia memiliki panggung lain yang tak kalah meriah. Panggung itu tidak memiliki sponsor, bahkan sering dimainkan di lapangan yang rumputnya tumbuh tidak beraturan.

Tiang gawangnya kadang masih terbuat dari bambu, garis lapangannya digambar dengan kapur seadanya, sementara tribun penontonnya hanyalah pematang sawah, bak truk, atau sepeda motor yang diparkir berjajar.

Tarkam: Antar Kampung

Jika Piala Dunia puncak piramida sepak bola global, di Indonesia tarkam adalah fondasinya.

Ia bukan sekadar kompetisi olahraga, melainkan institusi sosial yang menyimpan berbagai fungsi ekonomi, budaya, dan politik. 

Tarkam (Antar Kampung) telah menjelma menjadi denyut nadi olahraga rakyat yang merefleksikan identitas, solidaritas, dan budaya masyarakat Indonesia. 

Di tengah keterbatasan fasilitas, lapangan becek, tiang gawang dari bambu, atau garis lapangan yang hanya dibuat dari kapur, tarkam justru menghadirkan esensi sepak bola yang paling murni: bermain dengan kegembiraan, kebersamaan, dan semangat kompetisi yang lahir dari kecintaan terhadap olahraga, bukan semata-mata karena industri. 

Tarkam bukan sekadar pertandingan sepak bola, melainkan institusi yang memproduksi modal sosial yang selama ini gagal dibangun melalui banyak program pemerintah.

Teori sosial yang berkembang di barat, justru telah lama berkelindan di tengah masyarakat.

Putnam dalam buku Making Democracy Work,  menunjukkan kemajuan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh modal ekonomi atau sumber daya alam, tetapi juga oleh tingkat kepercayaan (trust), norma bersama, dan jejaring sosial yang memungkinkan masyarakat bekerja sama, sehingga lebih kuat menghadapi masalah dan lebih mudah mencapai kesejahteraan. 

Dalam konteks Indonesia, tarkam menjadi salah satu ruang sederhana yang hidup dalam  habitus dan modal budaya (cultural capital).

Teorinya, Bourdieu menjelaskan habitus sebagai kebiasaan, nilai, dan cara berpikir yang tertanam melalui pengalaman sehari-hari mampu membentuk pertumbuhan masyarakat.

Bermain di lapangan berlumpur, menghadapi lawan yang lebih tua, bertanding tanpa fasilitas memadai, membentuk karakter, daya tahan, kreativitas, dan keberanian. 

Habitus seperti ini acap kali tidak dapat direplikasi sepenuhnya oleh akademi sepak bola yang sangat terstruktur.

Karena itu, tidak mengherankan apabila banyak pemain nasional justru lahir dari tarkam sebelum  kompetisi profesional.

Pada masyarakat yang masih memiliki ikatan sosial kuat, kebersamaan muncul dari kesamaan nilai, pengalaman, dan tradisi. Tarkam menjadi ritual sosial yang memperkuat solidaritas tersebut. 

Salah satu kekuatan terbesar tarkam adalah kemampuannya menghapus batas-batas sosial.

Di atas lapangan, status sebagai petani, buruh, pegawai negeri, mahasiswa, maupun pengusaha menjadi tidak relevan.

Semua menyatu dalam identitas yang sama sebagai pemain atau pendukung desa.

Tarkam menjadi ruang sosial yang memperkuat kohesi masyarakat. Kompetisi yang berlangsung sengit justru menjadi medium untuk mempererat gotong royong, memperkuat rasa memiliki terhadap kampung, dan membangun kebanggaan kolektif.