SOLO, KOMPAS.com - Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo) memastikan Pasar Malam Sekaten di Alun-alun Utara Keraton Solo tetap berlangsung sesuai jadwal.
Acara tersebut masih dilanjutkan meski menuai penolakan dari kubu Pakubuwono (PB) XIV Purboyo yang meminta seluruh wahana dibongkar karena dinilai tidak mengantongi izin.
Ketua Eksekutif LDA Keraton Solo, KPH Eddy Wirabhumi, mengatakan bahwa penyelenggaraan Sekaten telah memperoleh izin dari PB XIV Hangabehi yang diakui sebagai pihak pemberi kewenangan.
"Pembukaan tanggal 2 sampai tanggal 30. Karena kita juga ada izin tersendiri dari raja kami," kata Eddy di Kasentanan, dilansir dari TribunSolo, Senin (27/7/2026).
LDA Sebut Alun-alun Utara Layak Jadi Ruang Publik
Eddy menyampaikan, Alun-alun Utara sejak awal diproyeksikan sebagai ruang publik.
Oleh sebab itu, Alun-alun Utara dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, baik kebudayaan maupun ekonomi kreatif.
Ia juga menyinggung sejumlah agenda berskala besar yang sempat digelar di lokasi tersebut, yakni Festival Balon Udara, Soekarno Run, hingga pertunjukan musik keroncong.
"Kemarin diskusi dengan Pak Wali agar alun-alun ini lebih banyak digunakan untuk kegiatan," jelas Eddy.
"Aksesibilitas banyak, ruang kantong parkir banyak, dan itu akan memberi peluang bagi masyarakat banyak termasuk pemerintah kita menggunakan itu agar menjadi kegiatan tidak hanya budaya tapi juga ekonomi kreatif. Sebelumnya udah digunakan ada balon, Soekarno Run, keroncong," tambahnya.
Ia menuturkan, pemanfaatan Alun-alun Utara juga mengacu pada Peraturan Daerah Kota Surakarta Nomor 4 Tahun 2021 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Surakarta.
Dalam aturan itu, taman kota dapat dimanfaatkan secara terbatas dengan syarat tertentu, seperti untuk perayaan hari besar, pertunjukan seni, perdagangan kecil maupun mikro, hingga jasa.
Sekaten Dinilai Memiliki Dasar Sejarah
Eddy juga menegaskan bahwa Sekaten di Alun-alun Utara memiliki keterkaitan sejarah dengan tradisi Sekaten yang berpusat di Masjid Agung Keraton Solo.
"Kalau dari sisi acara Sekaten selalu di Alun-Alun Utara karena acara gamelannya kan di masjid. Tapi, untuk perayaannya nggak apa-apa di sana diselenggarakan monggo," terangnya.
Meski begitu, Eddy mengaku tidak mempermasalahkan apabila ada pihak lain yang ingin menggelar kegiatan serupa di lokasi berbeda.
Baginya, yang terpenting seluruh pihak mampu menjaga situasi tetap kondusif sekaligus memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.