LAMPUNG SELATAN, KOMPAS.com – Musim kemarau yang dipengaruhi fenomena El Nino mulai memberi tekanan bagi petani padi di Kabupaten Lampung Selatan.
Memasuki fase generatif, ribuan tanaman padi membutuhkan pasokan air yang stabil. Namun, di lapangan petani justru dihadapkan pada dua persoalan sekaligus, yakni berkurangnya debit air dan melemahnya pasokan listrik untuk mengoperasikan pompa irigasi.
Kondisi itu dirasakan petani di Desa Sidomakmur, Kecamatan Way Panji. Ketua Gapoktan Makmur Sejati, Joko Umboro, mengatakan tanaman padi di wilayahnya kini berusia sekitar 60 hari atau memasuki fase bunting, yakni masa yang sangat menentukan keberhasilan panen.
"Yang paling dibutuhkan sekarang itu air. Rata-rata petani sudah punya sumur bor kecil ataupun sibel, tapi karena cuaca seperti ini ada yang airnya tinggal sedikit, bahkan ada yang sudah tidak keluar sama sekali," kata Joko saat dikonfirmasi, Sabtu (1/8/2026).
Pompa Air Tak Maksimal karena Daya Listrik Melemah
Selain debit air yang terus menurun, petani juga menghadapi persoalan lain. Penggunaan pompa air secara bersamaan membuat tegangan listrik di kawasan persawahan kerap melemah sehingga mesin pompa tidak mampu bekerja secara optimal.
Akibatnya, petani harus bergantian menyalakan pompa agar listrik tetap mampu mengalir dan proses pengairan sawah dapat dilakukan.
"Kalau semua petani memakai jaringan listrik bersamaan, sering terjadi dayanya lemah jadi tidak kuat untuk menghidupkan pompa air," ujar Joko.
Menurutnya, kondisi tersebut memperlambat distribusi air ke lahan pertanian, padahal kebutuhan air pada fase pertumbuhan saat ini sangat tinggi.
Tanam Lebih Awal Jadi Upaya Menyelamatkan Panen
Di tengah ancaman kekeringan, Joko menilai kondisi pertanian di Way Panji masih lebih baik dibandingkan sejumlah wilayah lain di Lampung Selatan yang mulai terdampak kekeringan dan terancam gagal panen.
Ia menyebut hal itu tidak lepas dari langkah petani yang mengikuti anjuran Dinas Pertanian dengan memulai masa tanam lebih awal sebelum puncak musim kemarau.
"Alhamdulillah masih ada harapan. Kami mengikuti anjuran pemerintah dengan tanam lebih awal sejak awal Juni. Di Sidomakmur kami kompak tanam serentak, sehingga mudah-mudahan tanaman masih bisa diselamatkan," ujarnya.
Joko memperkirakan kondisi tanaman saat ini masih sekitar 75 persen. Dengan kondisi tersebut, ia berharap hasil panen nantinya setidaknya mampu menutup biaya produksi yang telah dikeluarkan petani.
"InsyaAllah masih bisa kalau balik modal," katanya.
Petani Minta Tambahan Sumur Bor
Menghadapi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung, para petani berharap pemerintah segera menambah fasilitas penunjang pertanian, terutama pembangunan sumur bor serta penguatan jaringan listrik di kawasan persawahan.
Menurut Joko, keberadaan sumur bor yang ada saat ini belum sebanding dengan luas areal persawahan yang mencapai ratusan hektare sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh petani.
"Mohon bantuannya, karena harapan teman-teman petani tentu modal bisa kembali dan syukur alhamdulillah bisa ada untung sedikit-sedikit," tuturnya.
Ia mengatakan kelompok tani memang telah menerima bantuan sumur bor pada tahun-tahun sebelumnya. Namun jumlahnya masih terbatas sehingga belum mampu menjangkau seluruh lahan pertanian.
"Sumur bor sudah ada, tapi luas lahan kami ratusan hektare sehingga belum mencukupi. Sekarang ada informasi akan ada tambahan bantuan, mudah-mudahan bisa segera direalisasikan," kata Joko.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang