WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pesawat Air Force One baru milik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bakal dinonaktifkan sementara selama sekitar satu bulan pada musim gugur mendatang.
Gedung Putih mengonfirmasi bahwa jet mewah Boeing yang disumbangkan oleh Qatar tersebut harus menjalani peningkatan dan penyempurnaan tambahan.
Kabar ini mencuat sehari setelah Trump secara terbuka mengakui Air Force One terbarunya memerlukan lebih banyak fitur.
Belakangan, pesawat tersebut memang terus menyita perhatian publik terkait kesiapan sistem pertahanan yang dimilikinya.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa armada anyar tersebut sebenarnya berada dalam kondisi aman, meski tetap memerlukan perbaikan berkala.
“Pesawat Air Force One yang baru sangat aman untuk perjalanan presiden, tetapi akan menerima peningkatan dan perbaikan tambahan pada musim gugur yang akan memakan waktu sekitar satu bulan untuk diselesaikan,” ujar Leavitt, dikutip dari New York Times, Senin (20/7/2026).
“Selama waktu itu, presiden akan terbang dengan pesawat Air Force One yang lama,” lanjutnya.
Kendati demikian, Leavitt tidak membeberkan rincian peningkatan khusus yang akan diterapkan pada jet tersebut.
Di sisi lain, akun resmi Gedung Putih di media sosial X menyebut rencana perbaikan ini sebagai bentuk planemaxxing, istilah slang internet yang merujuk pada proses optimasi.
Sorotan isu keamanan
Trump tercatat baru satu kali mengudara dengan pesawat hibah tersebut, yakni saat menghadiri KTT NATO di Turkiye awal bulan ini.
Kendati demikian, ia tidak menggunakannya secara penuh hingga akhir perjalanan.
Trump sempat berganti menggunakan Air Force One lama untuk terbang dari Turkiye menuju Inggris, sebelum akhirnya kembali menaiki jet Qatar untuk rute penerbangan menuju AS.
Berdasarkan laporan pertama dari New York Times, pergantian armada tersebut dilakukan atas permintaan Dinas Rahasia.
Pasukan pengawalan itu mengemukakan kekhawatirannya seiring dengan dimulainya kembali peperangan dengan Iran.
NY Times mengungkap bahwa jet anyar pemberian Qatar belum dilengkapi penanggulangan pertahanan setara model lama, termasuk kemampuan anti-rudal.