Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa berat badannya hanya berkurang sedikit meski dalam kondisi perang.
Pernyataan enteng itu sontak memicu kritik dari lawan politik.
Dalam wawancara dengan Channel 14, Netanyahu ditanya mengenai bagaimana serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu telah mengubah dirinya.
Serangan Hamas ke Israel itu menewaskan 1.200 orang termasuk warga sipil. Hamas juga menyandera sekitar 250 orang dari Israel, termasuk sejumlah warga asing.
Netanyahu awalnya menjawab bahwa invasi dan pembantaian Hamas tersebut mengubah pandangannya mengenai doktrin keamanan Israel, terutama terkait perlunya membangun zona penyangga di dalam wilayah musuh.
"Anggap saja saya telah belajar dari pengalaman. Saya menarik sejumlah pelajaran. Dan kita harus menyesuaikan diri dengan kenyataan," kata Netanyahu seperti dikutip Times of Israel pada Rabu (1/7).
Ketika kembali didesak oleh pewawancara dari stasiun televisi yang dikenal pro-Netanyahu mengenai perubahan yang ia alami secara pribadi sejak tragedi 7 Oktober, Netanyahu berkelakar, "Pertama-tama, saya kehilangan sedikit berat badan."
Agresi dan manipulasi
Psikolog klinis senior dan psikoanalis Dr Ofer Grozberg dari Tel Aviv University pernah diwanwacara Maariv tahun lalu, untuk mengetahui kepribadian Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, sejarah keluarganya, dan pengambilan keputusannya.
Wawancara ini memberikan wawasan tentang sejarah dan psikologi Netanyahu sehubungan dengan terpilihnya dia sebagai perdana menteri tepat 29 tahun yang lalu, pada 29 Mei 1996.
Menurut psikoanalis tersebut, Netanyahu adalah seorang orator ulung yang tahu bagaimana memikat khalayak luas, terutama mereka yang mendambakan drama dan pathos sebagai sarana untuk memupuk persatuan nasional.
Pidatonya sering kali menggemakan tema yang konsisten: "Kita akan selalu kuat, kita akan bertahan, dan kita akan menang."
Disampaikan dalam kalimat-kalimat yang ringkas dan disertai dengan gerakan-gerakan yang tegas dan terlatih dengan baik, penampilan tersebut memperkuat citranya sebagai seorang pemimpin yang berbicara dengan otoritas. Nada pidatonya bernuansa alkitabiah."
Namun, audiens di kalangan politik tengah dan kiri sering kesulitan untuk terhubung dengan gaya ini. Beberapa menganggapnya merendahkan, kata psikoanalis tersebut. Mereka mungkin lebih menyukai mode komunikasi yang lebih introspektif dan egaliter-yang mengacu pada akal sehat daripada membangkitkan emosi.
"Kita melihat seorang pria yang berbicara dalam konteks bertahan hidup dan kemenangan - dan ini tidak mengherankan, karena Bibi (sebutan Netanyahu) adalah putra dari keluarga Revisionis yang membesarkan tiga putra yang semuanya bertugas di Sayeret Matkal (unit komando elite). Ayahnya, seorang profesor sejarah yang sangat cerdas, sangat berpengetahuan tentang proses sejarah dan politik, menanamkan dalam diri Bibi perasaan bahwa 'Jika saya tidak membela diri sendiri, siapa yang akan membela saya?'" kata Grozberg
"Namun, ia adalah seorang ayah yang ideologis, bukan emosional-dingin, jauh, dan kritis, yang menuntut prestasi dan tidak mengizinkan Bibi, seperti yang akan kita lihat nanti, untuk terhubung dengannya atau mengungkapkan kerentanan. Bibi sangat menghormatinya, bahkan mengidentifikasi dirinya dengan ayahnya, dan di masa mudanya menyebut dirinya 'Ben Nitai. Nitai adalah nama pena yang kadang-kadang digunakan ayahnya untuk menerbitkan artikel."
Kepribadian Netanyahu juga pernah dianalisis pada Januari 2001, dengan menggunakan pendekatan "analisis perilaku." Psikolog Shaul Kimhi dari di Tel-Hai College, Israel, menerbitkan profil terperinci tentang Netanyahu setelah masa jabatan pertamanya sebagai perdana menteri (1996-1999).
Kimhi menemukan dalam diri ayah Netanyau, Benzion, ciri-ciri seperti "egois, sangat termotivasi untuk berprestasi, tidak terikat secara emosional, seorang pria yang pandai berbicara dan menulis," yang belum tentu sesuai dengan tindakannya. Menurut Kimhi, Benjamin Netanyahu mewarisi beberapa ciri ini dari ayahnya.
Ia menemukan ciri-ciri khas berikut pada perdana menteri Israel tersebut:
Egosentrisme. "Kesuksesan pribadi lebih penting baginya daripada ideologi dan ia terus-menerus berupaya mencapainya. Pola ini ditunjukkan oleh penerimaannya atas bantuan dari para kontributor AS yang memiliki pandangan ekstrem yang berbeda dari pandangannya sendiri," seperti Sheldon Adelson.
Kemudian, ambisi dan tekad. Ini adalah ciri kepribadian Netanyahu yang paling menonjol.
Ambisinya terwujud dalam keinginannya untuk menjadi yang terbaik, menjadi yang pertama, mengalahkan orang lain, dan meraih puncak. Lalu agresi dan manipulasi.
Netanyahu memandang permainan politik sebagai sesuatu yang diatur oleh "hukum rimba, di mana yang kuat bertahan dan yang lemah tersingkir. Baginya, pencapaian tujuan membenarkan segala cara politik. Dalam kebanyakan kasus, ia tidak bertindak karena agresi, kebencian, atau kekejaman. Dominasi dan manipulasinya berasal dari perhitungan rasional yang dingin."