Kehujanan hingga Jatuh ke Laut, Risiko yang Dihadapi Porter Muara Angke Jakut

Kehujanan hingga Jatuh ke Laut, Risiko yang Dihadapi Porter Muara Angke Jakut

JAKARTA, KOMPAS.com - Pekerjaan sebagai porter pelabuhan kerap menghadapi berbagai risiko, mulai dari bekerja di tengah hujan hingga terjatuh ke laut saat membawa barang.

Risiko itu sudah berkali-kali dirasakan Timan (40). Pria yang hampir 15 tahun bekerja sebagai porter di Pelabuhan Muara Angke itu mengatakan, pekerjaannya menuntut fisik sekaligus kehati-hatian karena harus mengangkut berbagai jenis barang.

"Ya suka dukanya mah gimana, ya kadang-kadang kehujanan-kehujanan gitu kalau lagi kerja itu," ucapnya sambil tertawa kecil kepada Kompas.com, Selasa (30/6/2026).

Dalam kesehariannya, Timan mengangkut berbagai barang, mulai dari barang milik wisatawan, dus-dus barang kebutuhan warung yang hendak menuju Kepulauan Seribu, dan ikan hidup.

Menurut dia, beban yang diangkut tidak selalu ringan. Salah satu pekerjaan terberat yang pernah dijalaninya adalah memindahkan mesin kapal bersama rekan-rekan porter dan kru kapal.

"Mesin kapal yang dompeng itu, kadang-kadang. Kan nurunin, walaupun pakai balok papan itu, tetap kan lumayan itu," kata dia.

Timan mengatakan, risiko kecelakaan kerja juga tidak bisa dihindari. Ia mengaku beberapa kali terjatuh saat bekerja, bahkan sampai tercebur ke laut ketika mendorong gerobak bermuatan barang.

"Sering lah jatuh mah. Kadang-kadang pakai gerobak, jatuh dari gerobak. Sering saya kayak gitu mah," tutur dia.

Kejadian seperti itu terkadang berujung pada kerugian ketika barang yang diangkut mengalami kerusakan.

Dalam beberapa kejadian, pemilik barang meminta ganti rugi, meski ada pula yang memakluminya sebagai musibah.

"Kadang-kadang ya kalau nyebur barang yang berharga gitu, kalau orangnya enggak baik mah minta ganti gitu, kalau yang baik mah 'enggak apa-apa dah, namanya musibah' gitu," tutur dia.

Ia juga mengatakan, pekerjaan porter cukup menguras tenaga. Timan sendiri mengaku bahwa kondisi fisiknya kini sudah tidak sebaik seperti dulu.

"Waduh, udah lesu, lemes kaki, pegel. Kadang kan dari depan gitu dorong gerobak sama lari ke sini, berapa kilo gitu dari sana (terminal) ke sini (dermaga)," ucap dia.

Dengan berbagai risiko tersebut, Timan tetap menjalani pekerjaannya karena belum memiliki pilihan pekerjaan lain.

Ia mengaku sebenarnya sempat ingin berhenti. Namun, sulitnya mencari pekerjaan lain membuatnya tetap bertahan sebagai porter.

"Waduh, pengin sekali (berganti pekerjaan) kalau ada kerjaan lain mah. Cuma di kampung enggak ada kerjaan, ya udah dijalanin aja dulu lah," katanya.

Di tengah semakin sepinya wisatawan yang menggunakan jasa porter, Timan berharap porter bisa mendapatkan kesempatan mengangkut barang lebih besar agar mereka tetap mendapatkan penghasilan.

"Ya lebih enaknya biar barang itu bisa kebongkar rombongan kita semua lah. Kadang-kadang ada yang mau, ada yang enggak. Kalau ada yang mengerti (kondisi kami) tuh ya mau, enggak apa-apa 'biar sama-sama makan' katanya. Kalau enggak ngerti mah enggak, enggak mau dia," tambah dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.