PRESIDEN Prabowo Subianto naik podium di Gorontalo pada Rabu (24/6/2026) dengan gaya yang sudah dikenali. Lepas, berapi, dan sengaja tidak rapi.
Di hadapan ribuan peserta Pekan Nasional Petani dan Nelayan XVII, ia berteriak soal pejabat yang sopan di mulut tapi korup di tangan, lalu menyelipkan kata "endasmu" dengan tawa yang dijawab riuh.
Satu hari sebelumnya, seorang ketua BEM di Jakarta baru saja ketahuan menerima Rp 20 juta dari polisi untuk memindahkan lokasi demonstrasi.
Dua kenyataan itu berjalan beriringan, seperti dua arus sungai yang dari jauh tampak tidak saling bertemu.
Momentum di Gorontalo bukan soal kontroversi kata-kata saja. Tapi soal sesuatu yang lebih dalam, tentang bagaimana kekuasaan berbicara kepada rakyatnya, dan apa yang sesungguhnya sedang dikomunikasikan di balik gaya yang disebut "blak-blakan" itu.
Republik ini sejak awal didirikan di atas keberaksaraan.
Bahasa adalah senjata pertama kemerdekaan kita. Sumpah Pemuda 1928 tidak dimulai dengan senjata; ia dimulai dengan kata "bahasa."
Proklamasi 1945 bukan hanya peristiwa politik; ia adalah teks, dua kalimat yang meneguhkan sejarah perjalan bangsa.
Kata-kata dipikul dalam pikiran para pemimpin terdahulu, ia begitu dirawat dengan kehati-hatian, dengan penuh kebijaksanaan dan digaungkan kepada rakyat dan dunia.
Dari peristiwa-peristiwa politik masa lapu, kita dapat memahami.
Para pendiri republik paham betul cara seorang pemimpin berbicara adalah juga cara ia mendefinisikan siapa rakyatnya, seberapa dihormati mereka, dan seperti apa relasi antara negara dan warganya akan dibangun.
Bahasa bukan sekadar alat komunikasi; bahasa adalah arsitektur kuasa.
Ketika Prabowo berkata "mereka tidak suka Prabowo karena Prabowo ngerti," ia sedang membangun sebuah peta dunia: ada "mereka" yang memusuhi, dan ada "rakyat" yang berpihak.
Peta itu tidak memberi ruang bagi warga yang kritis tanpa harus masuk kategori musuh.
Ketika ia berkata "susah kalau diganti ya" sambil menunjuk Panglima TNI dan Kapolri, candaan itu bukan hiburan semata.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.