Jokowi Kunjungi NTT, Marinus Manis: Jangan Remehkan Ingatan Rakyat

Jokowi Kunjungi NTT, Marinus Manis: Jangan Remehkan Ingatan Rakyat

Ringkasan Berita:
  • Presiden ke-7 RI Joko Widodo dijadwalkan mengunjungi NTT 2026 dengan agenda di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang
  • Kunjungan tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat dan pengamat politik, yang menilai agenda Jokowi memiliki dimensi politik pasca tidak lagi menjabat sebagai presiden.
  • Anggota DPRD NTT Fraksi PSI, Marinus Manis, membela kunjungan Jokowi dengan menyebutnya sebagai sosok pemimpin yang merakyat.
  • Marinus meminta semua pihak menghormati antusiasme masyarakat menyambut Jokowi.

POS-KUPANG.COM.COM, MAUMERE – Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), dijadwalkan melakukan kunjungan ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) selama empat hari, mulai 31 Juli hingga 3 Agustus 2026.

Kegiatan Jokowi akan dipusatkan di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang dengan sejumlah agenda yang menyentuh sektor ekonomi, kemasyarakatan, politik, hingga pertemuan bersama relawan.

Pada hari pertama, Jumat (31/7/2026), Jokowi dijadwalkan meninjau budidaya rumput laut di Pantai Aer Cina, Desa Oesiana, Kabupaten Kupang. 

Dalam kesempatan itu, ia juga akan berdialog langsung dengan para petani rumput laut untuk mendengarkan berbagai aspirasi mereka.

Memasuki hari kedua, Sabtu (1/8/2026), Jokowi dijadwalkan berbaur bersama masyarakat dalam kegiatan Car Free Day di Jalan El Tari, Kota Kupang.

Selanjutnya, pada Minggu (2/8/2026), Jokowi akan menghadiri Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) NTT untuk memberikan arahan kepada para kader partai.

Rangkaian kunjungan tersebut akan ditutup pada Senin (3/8/2026) dengan agenda pertemuan bersama relawan pendukung Jokowi se-NTT.

Kunjungan ini disebut sebagai bagian dari agenda silaturahmi Jokowi dengan masyarakat di berbagai daerah setelah sebelumnya melakukan kunjungan ke Provinsi Lampung.

Rencana kedatangan Presiden ke-7 RI itu pun menuai beragam respons dari masyarakat NTT. 

Sejumlah kalangan, termasuk beberapa pengamat politik, turut mengkritisi agenda kunjungan tersebut.

Menanggapi berbagai respons dan kritik itu, Anggota DPRD Provinsi NTT dari Fraksi PSI, Marinus Manis, angkat bicara.

Marinus mengatakan, sebagai kader PSI sekaligus anggota DPRD Provinsi NTT, ia merasa perlu menyampaikan pandangannya kepada sejumlah pengamat politik yang dinilai terlalu sibuk menafsirkan kedatangan Jokowi ke NTT.

Menurut politisi PSI asal Kabupaten Sikka itu, Jokowi merupakan contoh pemimpin yang merakyat karena mampu hadir di tengah masyarakat, mendengarkan langsung suara rakyat, serta membangun kedekatan tanpa sekat.

"Bapak Joko Widodo adalah contoh pemimpin yang merakyat. Sosok yang mampu hadir di tengah masyarakat, mendengarkan langsung suara rakyat, dan membangun kedekatan tanpa sekat," tegas Marinus Manis.

Ia menilai, bagi banyak masyarakat, termasuk di NTT, kepemimpinan Jokowi meninggalkan kesan yang kuat. 

Bukan hanya melalui berbagai kebijakan dan pembangunan yang dilakukan selama menjabat sebagai Presiden, tetapi juga melalui cara berinteraksi dengan masyarakat yang dinilai sederhana dan apa adanya.

"Pemimpin yang merakyat adalah pemimpin yang tidak hanya berada di atas panggung, tetapi mau turun langsung ke tengah masyarakat. Dan bagi banyak orang, sosok Pak Jokowi telah memberikan gambaran tentang bagaimana seorang pemimpin bisa dekat dengan rakyatnya," tambahnya.

Marinus mengatakan, itulah sebabnya nama Jokowi masih memiliki tempat tersendiri di hati sebagian masyarakat NTT. 

Menurutnya, seorang pemimpin pada akhirnya akan dikenang bukan semata-mata karena jabatan yang pernah diemban, melainkan karena jejak pengabdian dan kedekatan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Ia juga menegaskan, dirinya percaya politik yang sehat adalah politik yang menghargai rakyat, tidak meremehkan ingatan rakyat, dan tidak memaksa masyarakat melupakan sosok yang pernah hadir bersama mereka.

"Jangan melihat rakyat NTT hanya sebagai angka statistik, sebagai suara dalam pemilu, atau sekadar sebagai bagian dari mesin politik. Rakyat NTT punya hati. Rakyat NTT punya ingatan. Rakyat NTT punya pengalaman," tegasnya.

Menurut Marinus, masyarakat mengetahui siapa yang pernah datang menemui mereka, siapa yang mendengar keluhan mereka, dan siapa yang hadir ketika masyarakat membutuhkan perhatian pemerintah.

Karena itu, ia meminta agar antusiasme masyarakat dalam menyambut Jokowi tidak serta-merta dimaknai sebagai kepentingan politik.

"Bisa jadi, itu adalah bentuk penghormatan rakyat kepada seorang pemimpin yang pernah mereka kenal dan rasakan kehadirannya," katanya.

Marinus juga mengingatkan para pengamat politik agar tidak terlalu jauh menafsirkan sikap masyarakat hanya dari balik meja. 

Ia menilai, berakhirnya masa jabatan sebagai Presiden tidak serta-merta mengakhiri hubungan emosional antara seorang pemimpin dengan rakyat.

"Jabatan itu ada batas waktunya. Kekuasaan itu bisa berganti. Tetapi hubungan emosional seorang pemimpin dengan rakyat tidak selalu berhenti ketika masa jabatannya selesai," ujarnya.

Menurut Marinus, Jokowi telah menjadi bagian dari perjalanan bangsa Indonesia dan meninggalkan jejak yang masih dikenang oleh sebagian masyarakat NTT.

Marinus mengajak semua pihak untuk menghormati sikap masyarakat dalam menyambut Jokowi.

"Maka mari kita berhenti meremehkan kecerdasan rakyat. Kalau rakyat menyambut Pak Jokowi, hormati. Kalau rakyat masih mengenang Pak Jokowi, hormati. Kalau rakyat masih memiliki kedekatan emosional dengan Pak Jokowi, hormati. Itulah demokrasi," tutupnya. (bet)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS