JAKARTA, KOMPAS.com - Jalur LRT Fase 1B dari kawasan Velodrome, Jakarta Timur, menuju Manggarai, Jakarta Selatan, telah terkoneksi sepenuhnya setelah girder terakhir proyek tersebut berhasil terpasang.
Direktur Utama PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro, Iwan Takwin, mengatakan girder tersebut merupakan rangkaian terakhir sehingga saat ini jalur LRT Fase 1B Velodrome-Manggarai sudah tersambung sepenuhnya.
"Dengan terpasangnya girder terakhir ini, seluruh rangkaian pekerjaan pengangkatan girder di sepanjang koridor Velodrome-Manggarai kini telah tersambung 100 persen, menandai rampungnya salah satu tahapan konstruksi paling menantang dalam pembangunan LRT Jakarta Fase 1B," kata Iwan dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (10/7/2026).
Adapun, girder terakhir itu dipasang tepat di atas area Double Double Track (DDT) perlintasan KRL Manggarai.
Sehingga, proses pengangkatan dan pemasangan menjadi salah satu tahap tersulit karena harus tetap memastikan operasional KRL tidak terganggu.
"Area DDT Manggarai merupakan titik kritikal terakhir... karena tantangannya bukan hanya pada aspek teknis konstruksi, tetapi juga pada koordinasi keselamatan dengan operasional perkeretaapian yang tetap berlangsung," ujar Iwan.
Dengan tersambungnya jalur LRT tersebut, Iwan menyebut hingga akhir Juni 2026, progres pembangunan Fase 1B Velodrome-Manggarai telah mencapai 94,061 persen.
Tahapan selanjutnya, Jakpro akan berfokus pada penyelesaian pekerjaan lanjutan serta persiapan operasional.
Jalur LRT tersebut ditargetkan dapat beroperasi penuh dan digunakan oleh masyarakat pada Agustus 2026 mendatang.
"Kami berkomitmen penuh untuk menuntaskan proyek ini sesuai target. Ini bukan semata soal penyelesaian konstruksi, tetapi juga bagian dari upaya menghadirkan layanan transportasi publik yang semakin terintegrasi, andal, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat Jakarta," ucap Iwan.
Menurut Iwan, jika rute Velodrome-Manggarai sudah ikut beroperasi, moda transportasi LRT diperkirakan mampu melayani hingga 18 juta penumpang pada 2028.
"Selain memperkuat konektivitas antar kawasan, sistem transportasi publik berbasis listrik ini juga diproyeksikan berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon perkotaan hingga 2.927.250 ton CO2e, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Jakarta yang lebih berkelanjutan," tutup Iwan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangNikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.