Harga Telur Ayam Anjlok hingga Rp 19.000 Per Kg, Distributor di Solo Putar Otak Siasati Ukuran

Harga Telur Ayam Anjlok hingga Rp 19.000 Per Kg, Distributor di Solo Putar Otak Siasati Ukuran

SOLO, KOMPAS.com - Sejumlah distributor telur ayam di Kota Solo, Jawa Tengah, menjerit akibat harga telur anjlok hingga Rp 19.000 per kilogram (kg), jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) pemerintah sebesar Rp 26.500 per kg.

Anik (57), salah satu distributor di Pasar Legi, Solo mengaku was-was dengan rendahnya harga telur tersebut. Pasalnya para pedagang kini memilih mengerem kulakan agar stok tidak terlalu banyak.

“Kondisinya saat ini telur, ya piye (gimana) ya, kalau untuk masyarakat untuk makan sendiri, mungkin masih bisa. Masih bisa pada beli gitu."

"Tapi ya itu, kalau untuk kayak bakul-bakul tuh, ya itu, takut kalau kedunan (penurunan) harga, takutnya seperti itu,” ujarnya saat ditemui di kiosnya, Senin (29/6/2026).

Anik tidak mengetahui secara pasti penyebab rendahnya harga telur yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.

“Turunnya kita ndak ngerti ini karena apa. Katane dari kandang ya hargane pakan mahal, tapi kok bisa telur jadi murah. Lha itu lho,” ujar Anik bingung.

Biasanya ia menjual satu kilogram telur berkisar Rp 20.000 hingga Rp 28.000. Anik tidak memiliki kandang sendiri, ia mengambil jatah dari peternak telur di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.

“Sebelumnya kemarin-kemarin naik itu bisa Rp 20 ribu lebih, Rp 21 ribu bisa, Rp 22 ribu sampai bisa Rp 28 ribu dulu. Tapi mulai bulan-bulan ini telur bisa enggak begitu laku ini, jadi murah,” terangnya.

Pendapatan menurun hingga 60 persen

Karyawan distributor telur di Pasar Legi Solo memilah ukuran telur dari kecil hingga besar, Senin (29/6/2026)
Karyawan distributor telur di Pasar Legi Solo memilah ukuran telur dari kecil hingga besar, Senin (29/6/2026)

Anik mengaku pendapatannya turun hingga 60 persen sejak para pedagang memutuskan mengambil stok telur setengah dari biasanya. Satu kerat telur ia hargai Rp 285.000.

“Ya, misale satu bakul itu pernah ngambil ada yang 8, ada yang 10, ada yang 12, ini bisa ngambile 4. Kadang yang 12 berapa tuh ngambile ya bisa 10, bisa 8 gitu."

"Jadinya belum berani, stok pun aku juga enggak berani. Karena sekali aku nanti nek stok tahu-tahu besok turun lagi,” jelasnya.

Anik mendapat jatah dari kandang sebanyak 50 kerat telur. Sejak harga terus turun, ia tak berani mengambil lebih banyak.

Jika terpaksa harus menambah stok, ia pun memilih membeli di luar kandang dengan menyesuaikan jumlah permintaan saja.

“Saya seminggu ngambilnya empat kali. Tapi nanti kalau ada perubahan ya saya bisa minta lagi. Tak tambahi lagi gitu. Lha ini ndak berani. Saya gini, pikir nanti nek kurang, aku paling beli. Beli di lainnya. Ibaratnya baru menempil (membeli sedikit demi sedikit) gitu.”

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app