BEKASI, KOMPAS.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax tidak serta-merta membuat seluruh pengguna kendaraan beralih ke Pertalite yang lebih murah.
Salah satunya Ferdian (29), pengguna sepeda motor yang setiap hari bekerja di Jakarta.
Ia menilai penggunaan Pertamax merupakan bentuk investasi untuk menjaga kondisi kendaraan yang digunakannya sebagai sarana mobilitas harian.
"Menurut saya lebih baik keluar uang untuk bensin daripada nanti keluar uang lebih banyak buat servis motor," ujar Ferdian saat ditemui di SPBU Pekayon, Kamis (25/6/2026).
Namun, keputusan mempertahankan penggunaan Pertamax membuat Ferdian harus mengatur ulang anggaran bulanannya.
Ia mengaku mengurangi frekuensi nongkrong bersama teman-temannya agar biaya transportasi tidak semakin membengkak.
"Yang biasanya tiap hari nongkrong, sekarang cukup sekali seminggu," ungkapnya.
Sebelum harga Pertamax naik, Ferdian menghabiskan sekitar Rp 1,2 juta per bulan untuk kebutuhan transportasi. Kini, pengeluarannya meningkat menjadi sekitar Rp 1,5 juta per bulan.
"Pokoknya sekarang transportasi yang jadi prioritas utama. Soalnya kan diperlukan buat kerja," kata dia.
Hal serupa diungkapkan Gilang (33), pengguna sepeda motor yang juga tetap setia menggunakan Pertamax.
Ia menilai, pengalamannya menggunakan Pertalite dalam kondisi tertentu justru membuat performa motornya menurun.
"Saya pernah beberapa kali isi Pertalite karena kepepet. Setelah itu motor malah bermasalah, jadi sekarang lebih pilih Pertamax," ujar Gilang ditemui terpisah.
Untuk menyesuaikan kondisi keuangan, Gilang mengaku mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak terlalu penting, termasuk kebiasaan nongkrong di kafe atau coffee shop.
"Gantinya beli kopi instan aja yang lebih ekonomis. Yang penting masih bisa ngopi," kata dia.
Dalam sebulan, Gilang mengaku menghabiskan anggaran sekitar Rp 700.000 hingga Rp 900.000 untuk membeli bahan bakar.
Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS
Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.