MOJOKERTO, KOMPAS.com – Setiap Senin hingga Kamis, Sulistiyowati tidak langsung pulang setelah jam pelajaran berakhir.
Guru kelas I SD Negeri Sidoharjo 1, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu masih meluangkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit untuk membimbing tiga siswanya yang belum lancar membaca dan menulis.
"Alhamdulillah saat ini sudah naik kelas 2 semuanya. Yang dua anak ada perubahan signifikan. Ini tidak berjalan sendiri, juga melibatkan pengawasan orang tua di rumah," ujar Sulistiyowati kepada Kompas.com, Sabtu (11/7/2026).
Bimbingan tambahan tersebut diberikan sebagai bentuk kepeduliannya agar ketiga siswa itu tidak tertinggal dari teman-teman sekelasnya.
Menurut Sulistiyowati, siswa kelas I SD masih berada pada masa transisi dari taman kanak-kanak menuju sekolah dasar sehingga kemampuan membaca dan menulis setiap anak tidak sama.
Pada tahun ajaran 2025/2026, ia mendapati tiga siswanya belum lancar membaca dan menulis. Karena itu, ia berinisiatif memberikan pendampingan di luar jam pelajaran.
Disesuaikan dengan Kondisi Anak
Sulistiyowati mengatakan, pendampingan tidak langsung diberikan sejak awal masuk sekolah. Ia terlebih dahulu memberi kesempatan siswa beradaptasi dengan lingkungan belajar selama sekitar dua bulan.
Setelah itu, ia mulai mengidentifikasi siswa yang membutuhkan perhatian lebih dalam kemampuan literasi.
Meski dijadwalkan setiap Senin hingga Kamis, bimbingan tambahan tersebut tetap disesuaikan dengan kondisi anak.
"Bila anak sudah terlihat lelah, maka tambahan belajar membaca dan menulis tidak dilaksanakan," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa seluruh pendampingan dilakukan tanpa memungut biaya dari orang tua siswa.
"Bentuk dedikasi, agar mereka tidak terlalu tertinggal dengan teman-temannya," kata Sulistiyowati.
Budaya Literasi Diperkuat di Sekolah
Selain pendampingan belajar, sejumlah sekolah dasar negeri di Kabupaten Mojokerto juga memperkuat budaya literasi melalui berbagai program.
Salah satunya diterapkan di SD Negeri Bendung 1, Kecamatan Jetis, dengan menghadirkan pojok baca di setiap kelas.
"Pojok baca ini untuk meningkatkan literasi siswa di masing-masing kelas," ujar Kepala SD Negeri Bendung 1, Ririen Pramonowati.
Sementara itu, SD Negeri Sooko 2 mengembangkan Literacy Center, yakni ruang khusus yang menyediakan beragam koleksi buku, karya siswa, serta area membaca yang dapat dimanfaatkan saat waktu luang.
"Anak ke situ bisa untuk membaca," kata Kepala SD Negeri Sooko 2, Abdul Hamid.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang