Lebak, Beritasatu.com - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Lebak, Banten, selama hampir 3 bulan mulai mengancam kehidupan petani. Selain membuat sawah mengering, kekeringan berisiko menyebabkan gagal panen, menghilangkan pendapatan, dan menggerus cadangan pangan keluarga.
Ancaman tersebut dirasakan Sahri (54), petani penggarap di Kecamatan Warunggunung. Sebanyak 12 petak sawah yang digarapnya berada dalam kondisi kritis setelah tanaman padi kekurangan air sebelum memasuki fase pembentukan bulir.
Pantauan Beritasatu.com di areal persawahan Kecamatan Warunggunung, Jumat (31/7/2026), menunjukkan hamparan sawah telah berubah kecokelatan. Permukaan tanah retak, sedangkan tanaman padi berusia sekitar dua bulan tampak memerah, layu, dan berhenti tumbuh meski telah beberapa kali dipupuk.
Kondisi tersebut diperparah oleh keterbatasan jaringan irigasi. Sebagian besar petani selama ini mengandalkan air hujan dan sumber air di sekitar lahan. Namun, kemarau berkepanjangan membuat debit air terus menyusut hingga tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman.
Sahri telah berupaya menyelamatkan tanamannya dengan mengoperasikan pompa air menggunakan bahan bakar yang dibeli secara mandiri. Namun, upaya tersebut tidak memberikan hasil maksimal karena sumber air di sekitar sawah juga mengering.
"Saya sudah menghabiskan hampir 30 liter bensin untuk menyedot air. Namun, sawah tetap tidak semuanya terairi. Padinya sudah merah, kondisinya kritis, dan cepat mati," kata Sahri.
Kekeringan membuat biaya produksi yang ditanggung Sahri terus membengkak. Selain membeli bahan bakar, ia harus membayar sewa traktor, ongkos tanam, pupuk, serta upah tenaga kerja untuk merawat tanaman.
"Belum lagi membayar orang untuk tanam, kalau di sini disebut nandur, dengan upah sekitar Rp 500.000 per hektare. Setelah itu, masih harus membayar pekerja untuk ngoyos ketika tanaman berumur sekitar 20 hari," ujarnya.
Sahri memperkirakan kerugian yang telah dialaminya mencapai lebih dari Rp 5 juta. Nilai kerugian tersebut berpotensi bertambah apabila seluruh tanaman padi tidak dapat dipanen.
"Sudah pasti rugi. Kalau dihitung semuanya mungkin lebih dari Rp 5 juta. Itu belum termasuk kalau nanti benar-benar gagal panen," katanya.
Bagi Sahri, persoalan paling berat bukan hanya hilangnya hasil panen, melainkan juga berkurangnya persediaan pangan untuk keluarganya. Cadangan beras di rumah terus menipis, sementara uang yang dimiliki telah digunakan sebagai modal menggarap sawah.
"Cadangan beras di rumah sudah menipis. Kalau panen gagal, kami terpaksa membeli beras. Padahal, uang sudah habis untuk modal sawah. Saya bingung harus mencari uang dari mana untuk makan keluarga," tuturnya.
Sahri merupakan petani penggarap dengan sistem bagi hasil. Seluruh biaya produksi ditanggungnya sendiri, sedangkan hasil panen dibagi bersama pemilik lahan. Namun, ketika gagal panen terjadi, kerugian hanya ditanggung petani penggarap.
"Kalau panen bagus, hasilnya dibagi. Namun, kalau gagal seperti sekarang, yang rugi hanya kami. Pemilik sawah tidak ikut menanggung kerugian," ucapnya.
Menurut Sahri, kemarau tahun ini menjadi salah satu yang terberat selama dirinya bertani. Pada musim kemarau sebelumnya, hujan masih sesekali turun sehingga tanaman dapat bertahan. Tahun ini, tanaman mengering sebelum sempat menghasilkan bulir.
Ratusan Hektare Sawah Terdampak
Kondisi serupa terjadi di sejumlah areal persawahan Kecamatan Warunggunung. Sedikitnya lima hektare sawah mengalami kekeringan dengan tingkat kerusakan berbeda-beda.
Tanpa hujan atau tambahan pasokan air irigasi dalam waktu dekat, sebagian tanaman diperkirakan tidak dapat dipanen.
Data Dinas Pertanian Kabupaten Lebak periode 1-15 Juli 2026 mencatat kekeringan telah melanda tujuh kecamatan dengan total luas lahan terdampak sekitar 372 hektare.
Kalanganyar menjadi wilayah dengan lahan terdampak paling luas, yakni 227 hektare. Berikutnya, Cipanas dan Rangkasbitung masing-masing 49 hektare, Cibadak 21 hektare, Muncang 17 hektare, Maja lima hektare, serta Warunggunung empat hektare.
Kerentanan tersebut tidak terlepas dari karakteristik pertanian di Kabupaten Lebak yang masih bergantung pada curah hujan.
Berdasarkan data Baku Sawah Kabupaten Lebak 2025, luas lahan sawah mencapai 52.033,1 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 21.088,2 hektare atau 40,5% merupakan sawah tadah hujan yang tidak ditunjang jaringan irigasi teknis.
Ketergantungan terhadap hujan membuat sebagian besar lahan pertanian rentan mengalami penurunan produksi ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
Dampaknya tidak hanya berupa penurunan hasil panen, tetapi juga berkurangnya pendapatan petani, melemahnya daya beli masyarakat, dan melambatnya perputaran ekonomi di wilayah perdesaan.
Belum Ada Laporan Puso
Dinas Pertanian Kabupaten Lebak menyatakan hingga kini belum menerima laporan mengenai lahan yang mengalami puso atau gagal panen total. Sebagian besar lahan masih masuk kategori rusak ringan hingga sedang sehingga tanaman dinilai masih berpeluang diselamatkan.
Di Kecamatan Rangkasbitung, sebanyak 22 hektare lahan mengalami kerusakan ringan, 17 hektare rusak sedang, dan 10 hektare rusak berat.
Sementara itu, di Kecamatan Kalanganyar, sebanyak 97 hektare lahan masuk kategori rusak ringan dan 130 hektare lainnya mengalami kerusakan sedang.
Untuk mengurangi dampak kekeringan, Dinas Pertanian Kabupaten Lebak telah mendistribusikan 74 unit pompa air ke 28 kecamatan. Pemerintah daerah juga memberikan pendampingan teknis dan melakukan pemantauan lapangan secara berkala.
Namun, luasnya wilayah yang terdampak membuat bantuan pompa air belum mampu menjangkau seluruh lahan yang membutuhkan pasokan air.
Kemarau panjang di Kabupaten Lebak menunjukkan bahwa kekeringan tidak hanya menjadi persoalan produksi pertanian. Ketika biaya tanam terus bertambah, hasil panen terancam hilang, dan persediaan pangan menipis, kemarau berubah menjadi tekanan ekonomi bagi keluarga petani.
Kondisi tersebut sekaligus memperlihatkan kerentanan ketahanan pangan di daerah yang sebagian besar kegiatan pertaniannya masih mengandalkan sawah tadah hujan.