FIFA Disebut Mundur dari Rencana Penjualan Hak Komersial Piala Dunia

FIFA Disebut Mundur dari Rencana Penjualan Hak Komersial Piala Dunia

KOMPAS.com - Rencana kontroversial FIFA untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta dilaporkan batal setelah mendapat penolakan luas dari federasi sepak bola dunia, terutama dari Eropa.

Menurut laporan The New York Post, proposal yang digagas Presiden FIFA Gianni Infantino itu ambruk setelah ancaman boikot dari UEFA, penolakan sejumlah konfederasi, hingga perpecahan di internal FIFA.

Dalam proposal tersebut, FIFA berencana membentuk perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) yang akan mengelola seluruh hak komersial turnamen FIFA, termasuk hak siar, sponsor, lisensi, dan penjualan tiket Piala Dunia.

FIFA kemudian ingin melepas sekitar 20 persen saham perusahaan tersebut kepada investor eksternal untuk memperoleh dana hingga 4,2 miliar dollar AS (sekitar Rp75,6 triliun, kurs Rp18.000 per dollar AS), dengan valuasi perusahaan mencapai 20 miliar dollar AS (sekitar Rp360 triliun).

Menurut badan tertinggi sepak bola dunia tersebut, skema tersebut akan meningkatkan dana pengembangan global menjadi lebih dari 10 miliar dollar AS (sekitar Rp180 triliun) dalam empat tahun ke depan.

Infantino menyebut setiap asosiasi anggota yang mendukung proposal akan memperoleh akses pendanaan sebesar 40 juta dollar AS (sekitar Rp720 miliar) mulai Januari 2027.

Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dibanding proposal awal yang hanya menawarkan 20 juta dollar AS (sekitar Rp360 miliar) untuk periode 2027-2030.

Investor utama dalam rencana tersebut adalah Thrive Capital, perusahaan investasi yang dipimpin Joshua Kushner, adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Ancaman Boikot UEFA Menggagalkan Proposal

Menurut sejumlah sumber New York Post yang mengetahui pembahasan tersebut, ancaman UEFA menjadi faktor utama runtuhnya proposal.

UEFA sebelumnya menegaskan seluruh 55 federasi anggotanya tidak akan mengikuti kompetisi FIFA apabila rencana penjualan hak komersial Piala Dunia tetap dijalankan.

Tanpa keikutsertaan negara-negara seperti Inggris, Spanyol, Jerman, Italia, dan Perancis, nilai komersial Piala Dunia dipandang akan merosot drastis.

"Tanpa tim-tim besar Eropa, Piala Dunia kehilangan daya tariknya. Penyiar tidak akan membayar mahal dan sponsor akan menarik investasinya," kata salah satu sumber yang dikutip The New York Post.

Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026, seusai La Furia Roja mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 pada Minggu (19/7/2026).
Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026, seusai La Furia Roja mengalahkan Argentina dengan skor 1-0 pada Minggu (19/7/2026).

Sumber lain menyebut FIFA akhirnya memahami besarnya penolakan terhadap proposal tersebut.

"Mereka sudah menguji respons publik dan kini mendapatkan jawaban yang jelas," ujar sumber tersebut.

Disebutkan pula bahwa Thrive Capital mulai membahas kemungkinan menghentikan keterlibatannya, sementara JPMorgan selaku penasihat keuangan juga tidak lagi memperkirakan transaksi tersebut akan terlaksana.