LAMONGAN, KOMPAS.com - Pertemuan dua sahabat masa kecil di sebuah sekolah di Desa Sidobinangun, Lamongan, Jawa Timur, berujung haru. Ipda Purnomo memeluk sahabatnya, Aji, yang kini bekerja sebagai kuli bangunan.
Purnomo dan Aji merupakan teman satu sekolah saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Namun, kehidupan membawa keduanya ke jalan berbeda.
Purnomo kini menjadi seorang perwira polisi, sedangkan Aji bekerja sebagai kuli bangunan untuk menghidupi keluarganya.
Keduanya kembali bertemu ketika Purnomo datang ke salah satu sekolah di Desa Sidobinangun untuk membagikan paket tas sekolah dan santapan Jumat Berkah kepada para siswa.
Saat itu, Aji yang sedang bekerja sebagai kuli bangunan berada di lokasi. Namun, Aji sempat merasa canggung untuk menyapa Purnomo.
Melihat hal tersebut, Purnomo justru menghampiri dan memeluk sahabat masa kecilnya.
"Saya merasa kasihan, dan saya harus membantunya. Aku yang langsung tegur karena mungkin dia malu," kenang Purnomo kepada Kompas.com, Minggu (2/8/2026).
Pelukan tersebut membuat Aji tak kuasa menahan tangis. Ia kemudian mencurahkan kondisi kehidupannya kepada Purnomo.
Sambil menangis, Aji membandingkan kehidupannya dengan Purnomo.
"Saya merinding, sedih saat dia memeluk dan menangis sambil berkata, 'hidupmu enak punya mobil, sedang aku motor saja tidak punya'," tutur Purnomo menirukan ucapan sahabatnya.
Purnomo mengatakan, ucapan tersebut membuatnya sedih. Menurut dia, persoalan Aji bukan semata soal tidak memiliki sepeda motor, tetapi juga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari untuk mencari nafkah dan mengantar anaknya ke sekolah.
Purnomo kemudian menyampaikan niat untuk membantu Aji dengan membelikannya sepeda motor.
"Akhirnya saya berucap, 'saya belikan motor.' Malah dia menangis dan memeluk makin lama. Saya bilang ke dia, 'aku koncomu (aku temanmu)'," kata Purnomo.
Sahabat sejak SMP
Bagi Purnomo, membantu Aji bukan sekadar bentuk kepedulian kepada sahabat yang sedang mengalami kesulitan. Ia teringat hubungan keduanya sejak masih duduk di bangku SMP.
Ingatannya melayang ke masa-masa SMP, saat nasib mereka belum terpaut jauh. Menurut Purnomo, Aji sejak dulu merupakan sosok sederhana dan tidak banyak menuntut.