MESUJI, KOMPAS.com - Sejumlah warga Hindu Bali di Kabupaten Mesuji, Lampung, menggelar doa bersama di lokasi penyembelihan seekor tapir (Tapirus indicus) di kawasan Register 45 sebagai bentuk penyesalan atas kematian satwa dilindungi tersebut.
Doa bersama itu juga menjadi permohonan maaf sekaligus ajakan kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kelestarian satwa liar dan habitatnya.
Momen tersebut terekam dalam video berdurasi 3 menit 11 detik yang diunggah melalui akun Facebook Made Kastiawan pada Selasa (7/7/2026).
Dalam video itu, puluhan warga tampak berkumpul di lokasi penyembelihan tapir yang masih dipasangi garis polisi.
Di hadapan peserta doa, Made Kastiawan menyampaikan permohonan maaf atas tindakan sejumlah warga yang menyebabkan matinya satwa langka tersebut.
"Kami memohon maaf kepada Tuhan atas kesalahan yang dilakukan saudara-saudara kami sehingga mengakibatkan berkurangnya hewan langka tapir ini," ujar Made dalam video yang dikutip, Kamis (9/7/2026).
Jadikan Tragedi Tapir sebagai Pelajaran
Made mengatakan, doa bersama tidak hanya menjadi bentuk refleksi, tetapi juga sarana mengedukasi masyarakat agar memahami pentingnya melindungi satwa liar yang dilindungi undang-undang.
Menurut dia, masyarakat perlu mengetahui cara yang tepat ketika berhadapan dengan satwa liar, bukan justru memburu atau membunuhnya.
"Kami ingin masyarakat lebih memahami bagaimana memperlakukan hewan langka yang dilindungi. Jangan sampai ada lagi perbuatan yang membuat populasinya berkurang dan berujung pada ancaman pidana," katanya.
Ia mengaku prihatin sekaligus malu atas peristiwa tersebut. Meski pelaku merupakan bagian dari masyarakat setempat, Made menegaskan tindakan itu tidak dapat dibenarkan.
"Kami malu, tentunya kami malu. Tetapi bagaimanapun dia tetap saudara kami. Namun perbuatan itu tidak bisa dibenarkan," ungkapnya.
Soroti Hilangnya Habitat Satwa
Made berharap tragedi penyembelihan tapir menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap kelestarian satwa liar beserta habitatnya.
Menurut dia, kerusakan lingkungan dan alih fungsi kawasan hutan membuat ruang hidup satwa liar semakin menyempit sehingga mereka lebih sering memasuki kawasan permukiman.
"Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi. Mungkin ini menjadi pesan bagi kita semua agar lebih memperhatikan satwa-satwa langka yang semakin kehilangan tempat hidup dan sumber makanannya," tuturnya.
Ia berharap doa bersama yang digelar di lokasi kejadian menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian satwa liar merupakan tanggung jawab bersama.