Di Balik Lancarnya Roda Logistik Indonesia, Kesehatan Sopir Truk Jadi Taruhannya

Di Balik Lancarnya Roda Logistik Indonesia, Kesehatan Sopir Truk Jadi Taruhannya

JAKARTA, KOMPAS.com - Roda truk terus menggerus jalan-jalan utama di kota-kota besar yang menjadi pertanda bahwa roda logistik Indonesia tak pernah berhenti sedetik pun.

Pagi maupun malam, kendaraan-kendaraan raksasa itu mengangkut kebutuhan pokok, bahan baku industri, hingga barang belanjaan dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, menuju ke berbagai wilayah di Indonesia.

Di balik lancarnya roda logistik Indonesia, para sopir truk harus mengorbankan waktu istirahat, menahan lelah karena harus membawa kendaraan 24 jam demi mengejar target pengiriman dan mendapatkan penghasilan.

Puluhan jam duduk di balik kemudi, menembus kemacetan, dan menempuh perjalanan lintas kota hingga lintas pulau menjadi rutinitas yang tak terelakkan.

Tak sedikit sopir truk hanya memiliki waktu tidur terbatas atau terus berkendara saat tubuh sudah memberi tanda kelelahan.

Di balik barang yang tiba tepat waktu di tujuan, tersimpan harga mahal yang harus dibayar para pengemudi, yakni kesehatan mereka sendiri.

Salah satu pengemudi truk di Tanjung Priok bernama Hayatul Mujahidin (56) mengatakan, tenaganya sering terkuras habis ketika bekerja.

"Tenaga kami sering terkuras habis dari jam 06.00 WIB sampai 06.00 WIB pagi lagi, kadang bisa lebih dari 24 jam. Namanya juga kerja borongan, kadang kalau tidak ada tarikan ya kami istirahat lama di garasi," ucap dia ketika ditemui Kompas.com di Tanjung Priok, Kamis (18/6/2026).

Di sisi lain, ia juga sudah terdiagnosis mengidap diabetes sejak 2018, sehingga harus selalu membawa obat ketika berkendara.

Meski sering harus menahan sakit ketika berkendara, Hayatul mengaku ikhlas asalkan keluarganya di kampung halaman bisa makan.

Bahaya kerja puluhan jam

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Pondok Indah-Pondok Indah Oryza Gryagus Prabu mengatakan, mengemudi terlalu lama membuat tubuh berada dalam posisi duduk statis.

"Hal ini dapat menyebabkan nyeri punggung dan leher karena tekanan pada tulang belakang, kelelahan, serta meningkatkan risiko saraf terjepit, hernia nucleus pulposus atau HNP jika mengemudi dilakukan berkepanjangan tanpa istirahat," ucap dia dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Senin (22/6/2026).

Selain itu, mengemudi terlalu lama juga dapat memperlambat aliran darah, sehingga berisiko menyebabkan gumpalan darah pada kaki.

Kemudian, dalam waktu lama terutama dalam kondisi macet juga dapat meningkatkan tekanan darah atau hipertensi.

Menurunkan konsentrasi

Oryza bilang, pengemudi yang berkendara puluhan jam hingga kelelahan akan mengalami penurunan konsentrasi dan reaksi lebih cepat.

Nikmati Fitur Lengkap KARIN dengan KOMPAS.com PLUS

Dapatkan lebih banyak kuota, pahami berita lebih cepat, dan gali konteks mendalam dari artikel KOMPAS.com.