Dari Mana Keuangan FIFA Berasal dan Dipakai untuk Apa Saja?

Dari Mana Keuangan FIFA Berasal dan Dipakai untuk Apa Saja?

KOMPAS.com - FIFA tak hanya menjadi organisasi sepak bola terbesar di dunia, tetapi juga salah satu lembaga olahraga terkaya.

Seiring bergulirnya Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya diikuti 48 tim dan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, serta Meksiko, pemasukan FIFA diperkirakan mencapai rekor baru.

Berdasarkan laporan The Athletic, FIFA menargetkan pendapatan sebesar 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 235,25 triliun sepanjang siklus 2023-2026.

Dari jumlah tersebut, sekitar 9 miliar dollar AS atau Rp 162,87 triliun diperkirakan masuk pada 2026, hampir seluruhnya berasal dari penyelenggaraan Piala Dunia.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, berulang kali menegaskan bahwa setiap dolar yang diperoleh FIFA akan dikembalikan untuk pengembangan sepak bola.

Namun, di balik klaim tersebut, besarnya pendapatan, cadangan kas, hingga berbagai kontroversi membuat pengelolaan keuangan FIFA terus menjadi sorotan.

Pemasukan FIFA

Sumber pemasukan terbesar FIFA berasal dari hak siar televisi, yang menyumbang sekitar 68 persen dari total pendapatan.

Selain itu, FIFA memperoleh pemasukan dari penjualan tiket, paket hospitality, sponsor global, lisensi komersial, hingga turnamen baru seperti Piala Dunia Antarklub.

Hak siar televisi tetap menjadi mesin uang utama.

Nilai kontraknya terus meningkat meski di beberapa pasar, seperti China dan India, FIFA sempat mengalami kesulitan menjual hak siar sesuai target.

Di sisi lain, pasar Timur Tengah dan Afrika Utara justru berkembang pesat dalam satu dekade terakhir berkat meningkatnya investasi media di kawasan tersebut.

Pendapatan besar lainnya datang dari penjualan tiket.

Dengan format baru yang menghadirkan 104 pertandingan dan sekitar 6,7 juta tiket tersedia, FIFA diperkirakan mencatat rekor pendapatan tiket dan hospitality, melampaui Piala Dunia 2022 di Qatar.

Namun, strategi penjualan tiket juga menuai kritik. FIFA menerapkan sistem dynamic pricing, yang membuat harga tiket berubah mengikuti permintaan pasar.

Kebijakan itu memicu keluhan suporter karena harga dianggap terlalu mahal dan bahkan memunculkan penyelidikan dari sejumlah otoritas di Amerika Serikat terkait dugaan praktik penjualan tiket yang menyesatkan.