Dari Kantor Guru Jadi Perpustakaan, SDN 2 Dewantara Bangun Budaya Literasi Sejak Dini

Dari Kantor Guru Jadi Perpustakaan, SDN 2 Dewantara Bangun Budaya Literasi Sejak Dini

LHOKSUKON, KOMPAS.com – Sejumlah murid Sekolah Dasar (SD) Negeri 2 Dewantara, di Desa Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, Selasa (4/8/2026) tampak serius di sudut ruangan. 

Mereka sibuk mencari buku cerita, dipandu oleh Mutia, petugas perpustakaan di ruangan berukuran 3x4 meter itu.

Mereka duduk bersila sambil memegang buku. Sebagian di antaranya senyum-senyum melihat temannya membaca.

Layaknya mendongen, Mutia pun membacakan cerita untuk para siswa. 

Gedung itu bukan khusus perpustakaan. Awalnya, gedung ini merupakan kantor guru.

Namun, karena guru mendapatkan bangunan baru untuk kantor, gedung itu disulap menjadi perpustakaan.

“Minat tertinggi tetap buku cerita. Lainnya ya buku pelajaran,” kata Mutia.

Mutia satu-satunya petugas khusus perpustakaan di sekolah itu.

Satu guru lainnya, Asnidar turut membantu.

Dalam regulasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI, guru pendidikan agama Islam, bisa diperbantukan menjadi petugas perpustakaan.

“Dalam sehari kita buka dua jam, dari tujuh jam pelajaran. Karena selebihnya kan anak-anak berada di kelas,” kata Mutia.

Kepala SDN 2 Dewantara Nanda Indah Sari menyampaikan, untuk buku, mereka memiliki 1.000 koleksi judul buku.

“Mayoritas buku bercerita. Namanya juga sekolah dasar, buku cerita tentu ada muatan pengetahuannya,” kata dia.

Sekolah itu satu-satunya di Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara yang bekerja sama dengan Perpustakaan Daerah Aceh Utara.

Karena itu, per enam bulan, mereka diberi pinjaman buku baru dari perpustakaan daerah.

“Misalnya enam bulan ini kami kembalikan 300 judul buku, nanti diberikan gantinya buku lainnya. Begitu seterusnya,” kata dia.