NGAWI, KOMPAS.com - Suara knalpot sepeda motor bergemuruh di area sawah Desa Manguharjo, Kecamatan Ngawi, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Sabtu (11/7/2026) siang.
Para pengojek gabah sedang bersiap melakukan balapan. Sawah yang kering dijadikan sirkuit.
Selama balapan, para peserta diwajibkan mengangkut gabah seberat 50 kilogram.
Lomba bandangan gabah ini digelar setiap tahun di Desa Manguharjo sebagai bentuk rasa syukur para pembandang gabah (ojek pengangkut gabah) setelah para petani meraup panen raya padi.
Keberadaan pembandang gabah yang menggunakan sepeda motor menjadi penting bagi petani.
Terlebih tidak semua sawah memiliki akses jalan truk atau pikap pengangkut gabah.
“Balapan ini sebagai bentuk silaturahmi para pembandang gabah. Mereka bersyukur karena jasanya banyak dipakai petani saat panen raya,” kata Kepala Desa Manguharjo, Suprapto, Sabtu (11/7/2026).
Dihadiri Pembalap dari Luar Ngawi
Menurut Suprapto, balapan bandangan gabah sudah berlangsung empat kali.
Awalnya, balapan hanya melibatkan pembandang lokal saja.
Tingginya animo peserta, lomba bandangan kali ini diikuti peserta dari Caruban, Madiun, Bojonegoro, Cepu dan Tuban.
Para peserta dari luar daerah masuk ke kelas open yang memperebutkan trofi dan uang pembinaan.
Suprapto mengatakan, tempat lomba balapan bandangan gabah selalu berubah-ubah.
Namun dipastikan sirkuit balapan selalu berada di area sawah yang sudah dipanen padinya.
Soal hadiah, para pembalap bandangan gabah tak begitu mempersoalkannya.