BMKG Ungkap Alasan Pesawat Citilink Sempat Berputar Sebelum Mendarat di Tarakan Kaltara

BMKG Ungkap Alasan Pesawat Citilink Sempat Berputar Sebelum Mendarat di Tarakan Kaltara

TARAKAN, KOMPAS.com - Pesawat Citilink QG400 rute Balikpapan-Tarakan tidak bisa langsung mendarat saat tiba di Bandara Internasional Juwata Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), Minggu (19/7/2026). 

Sebelum menyentuh landasan, pesawat lebih dulu melakukan holding atau berputar di udara hingga akhirnya mendarat dengan selamat.

Manuver tersebut membuat jadwal kedatangan pesawat mengalami keterlambatan. Penerbangan yang berangkat dari Balikpapan sesuai jadwal baru tiba di Tarakan sekitar 39 menit lebih lambat dari waktu yang direncanakan.

Citilink Ungkap Alasan QG400 Sempat Berputar

Corporate Secretary and CSR Group Head Citilink, Tashia Scholz, mengatakan bahwa pesawat QG400 tetap lepas landas dari Balikpapan sesuai jadwal pada pukul 09.15 Wita. 

Namun, pilot tidak dapat langsung mendarat setelah tiba di Tarakan karena faktor cuaca.

Pilot kemudian menjalankan prosedur operasional dengan berkoordinasi bersama petugas menara pengawas penerbangan sebelum memutuskan melakukan pendaratan.

Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Juwata Tarakan pada pukul 11.09 Wita setelah pilot memastikan kondisi aman. Jadwal kedatangan semula diperkirakan pukul 10.30 Wita.

Terkait hal itu, Tashia menyampaikan petugas telah memberikan penjelasan kepada seluruh penumpang mengenai keterlambatan yang terjadi. Menurutnya, penumpang dapat menerima penjelasan tersebut dengan baik.

Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami penumpang selama proses penerbangan.

"Citilink senantiasa mengutamakan aspek keselamatan serta keamanan penerbangan, oleh karena itu kami selalu berupaya sejak dini dalam mengantisipasi hal-hal yang berpotensi mengganggu keselamatan dan keamanan penerbangan," imbuh Tashia, dikutip dari TribunKaltara, Minggu.

BMKG Jelaskan Kondisi Saat Pesawat Hendak Mendarat

Di sisi lain, Kepala BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, mengatakan bahwa penundaan pendaratan akibat kondisi cuaca bukan merupakan kejadian baru di Bandara Juwata Tarakan.

Menurut dia, karakteristik landasan pacu di Tarakan membuat pesawat hanya bisa melakukan lepas landas dan pendaratan dari satu arah, yakni sisi laut.

"Runway kita yang runway di Tarakan itu yang bisa digunakan kan hanya satu. Hanya dari arah laut. Nah, ketika pada saat pesawat mau landing terus anginnya dari laut, terus kecepatannya melebihi ambang batas, tentu ini enggak bisa melaksanakan aktivitas landing," jelas Sulam, dilansir dari TribunKaltara, Minggu.

Ia menambahkan, kondisi tersebut berbeda jika bandara memiliki landasan yang dapat digunakan dari dua arah.

"Berbeda dengan kalau misalnya runway-nya bisa dari dua arah. Kalau di sini Tarakan kan hanya satu arah saja. Nah itu, jadi sudah biasa terjadi kalau anginnya dari laut. Begitu gambaran umumnya," tambahnya.