Pemain asal Spanyol, Pau Kubarsi (19 tahun), besok Minggu akan menjadi bek termuda kedua dalam sejarah yang tampil di final Piala Dunia, setelah pemain asal Italia, Giuseppe Bergomi.
Kobarsi membentuk duet pertahanan yang luar biasa bersama Émerick Laporte, bek Athletic Bilbao berusia 32 tahun, sehingga keduanya menjadi tembok pertahanan yang sulit ditembus.
Surat kabar Mundo Deportivo memuat pernyataan Kubarsi dalam wawancara dengan stasiun TV3, di mana ia memuji Laporte, yang namanya dikaitkan dengan kepindahan ke Barcelona.
“Piala Dunia adalah turnamen besar pertama yang kami ikuti bersama sebagai bagian dari susunan pemain inti. Saya merasa sangat nyaman bermain di sampingnya, dan saya rasa kami berdua merasa sangat nyaman,” kata Kubarsi.
Ia menambahkan, “Saya memang sudah diberitahu bahwa Laporte mirip dengan Iñigo Martínez. Keduanya berasal dari wilayah Basque, bermain di sisi kiri pertahanan, dan memiliki karakteristik serupa serta kepribadian yang kuat. Saya pernah bermain bersama Iñigo di sini, jadi saya bisa membayangkan diri saya bermain bersama Laporte juga.”
Mengenai pertandingan yang akan datang melawan Julián Álvarez, ia berkomentar, “Dia pemain yang sangat terampil, bisa bergerak di ruang kosong, juga bisa mundur untuk menerima bola, dan memiliki tendangan yang luar biasa. Kamu harus selalu waspada dan dekat dengannya, karena dia mampu membahayakanmu kapan saja.”
Adapun mengenai pertandingan melawan Lionel Messi, Kubarsi mengungkapkan kekagumannya yang besar terhadap bintang Argentina tersebut, dengan mengatakan, “Dulu saya punya kaos bertuliskan nama Neymar dan Piqué, tapi Messi selalu ada di sana, dan dia adalah salah satu panutan utama saya.”
Dia menambahkan, “Saya dan seluruh penggemar Barcelona memiliki perasaan yang sangat istimewa terhadap Lionel Messi. Bisa berbagi lapangan dengannya di usia saya saat ini, itu adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi saya.”