JAKARTA, KOMPAS.com – Betadine Indonesia menggelar Festival Generasi Berani Exploring (Gen Bening) dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2026 di Cibis Park, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi) serta Kementerian Kebudayaan (Kemendikbud) tersebut merupakan bagian dari Gerakan “Biarkan Mereka Berlari” serta bentuk dukungan terhadap implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS).
Melalui festival tersebut, anak-anak dan orangtua diajak menikmati beragam aktivitas eksploratif, mulai dari permainan tradisional, sesi bermain bersama, hingga diskusi tentang manfaat menyeimbangkan aktivitas digital dan pengalaman nyata anak.
Country Head iNova Pharmaceuticals Indonesia Benyamin Wuisan mengatakan, pengalaman sederhana saat bermain di luar rumah merupakan bagian penting dari proses anak belajar mengenal lingkungan.
Aktivitas tersebut juga mampu membangun rasa ingin tahu serta menumbuhkan keberanian mencoba hal baru pada anak. Oleh karena itu, ruang eksplorasi bagi anak perlu tetap dijaga, meski mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital.
Benyamin menyatakan, Betadine telah dipercaya mendampingi keluarga Indonesia dalam memberikan perlindungan kesehatan melalui rangkaian produk antiseptik selama 50 tahun.
Melalui Festival Generasi Berani Exploring dan Gerakan “Biarkan Mereka Berlari”, pihaknya melanjutkan komitmen tersebut dengan mempertemukan pemerintah, ahli tumbuh kembang anak, komunitas, dan keluarga untuk menghadirkan lebih banyak ruang bagi anak untuk bermain, bergerak, belajar, dan bereksplorasi.
“(Festival dan gerakan tersebut) juga untuk membesarkan generasi yang aktif, cakap digital, mencintai budaya, dan memiliki semangat ‘Be Unstoppable’ dalam berkarya serta memberikan manfaat bagi sesama," ujar Benyamin dalam sambutannya saat membuka Festival Generasi Berani Exploring.
Melalui inisiatif tersebut, imbuhnya, Betadine ingin mendorong anak tetap aktif bereksplorasi di dunia nyata tanpa meninggalkan kecakapan digital sebagai bekal menghadapi masa depan.
Head of Marketing iNova Pharmaceuticals Indonesia Yulias Rachmatika menyampaikan, kampanye tersebut lahir dari pengamatan terhadap perubahan pola aktivitas anak yang kini semakin sering menghabiskan waktu di depan layar.
Yulias menjelaskan, Betadine tidak memandang kecakapan digital sebagai sesuatu yang harus dihindari. Kemampuan tersebut perlu berjalan beriringan dengan aktivitas fisik yang mampu mendukung perkembangan jasmani, sosial, dan kreativitas anak.
"Dengan penggunaan gadget yang semakin sering, anak menjadi lebih cenderung untuk tidak banyak bergerak, terfokus pada gadget. Sebagai orangtua, kami melihat bahwa perlu ada kegiatan yang bisa perlahan-lahan mengubah itu tanpa mengurangi requirement bahwa anak harus cakap digital di era digital," katanya kepada Kompas.com saat diwawancarai pada agenda Tunas Indonesia Cakap Digital di Garuda Spark Innovation Hub, Selasa (21/7/2026).
Ternyata, lanjutnya, tidak mudah mencari aktivitas bagi anak setelah waktu penggunaan gawai mulai dibatasi. Banyak orangtua kebingungan menentukan permainan bagi si kecil.
Untuk itu, Yulias melanjutkan, Betadine meluncurkan kampanye Generasi Berani Exploring (Gen Bening). Melalui Gen Bening, Betadine ingin mendorong anak tetap aktif bereksplorasi di dunia nyata tanpa meninggalkan kecakapan digital.
Luncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring
Melengkapi kampanye Gen Bening, Betadine meluncurkan Buku Saku Generasi Berani Exploring di Festival Generasi Berani Exploring.
Peluncuran buku ini juga menjadi jawaban atas kebingungan orangtua dalam mencarikan permainan yang cocok untuk tumbuh kembang anak.
Buku Saku Generasi Berani Exploring memuat 100 inspirasi aktivitas dan permainan bersama keluarga. Buku ini disusun bersama dokter spesialis anak, komunitas keluarga, dan komunitas permainan tradisional agar sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak.
Yulias mengatakan, kehadiran buku saku tersebut ditujukan untuk membantu orangtua yang ingin bermain bersama anak, tetapi belum memiliki cukup referensi terkait aktivitas yang dapat dilakukan.
"Kami meluncurkan buku saku yang berisi banyak permainan inspiratif untuk orangtua. Kami harapkan, semakin banyak masyarakat mendapatkan akses terhadap buku ini, semakin banyak pula keluarga, terutama anak-anak, yang berkontribusi terhadap bagaimana perkembangan Gen Bening," ujarnya.
Dalam penyusunan buku tersebut, Betadine melibatkan dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang pediatri sosial Prof Dr dr Rini Sekartini Sp A(K), komunitas keluarga, serta komunitas permainan tradisional.
Lewat kolaborasi tersebut, setiap aktivitas di dalam Buku Saku Generasi Berani Exploring sesuai dengan tahapan tumbuh kembang anak dan mudah diterapkan dalam keseharian keluarga.
"Anak belajar paling baik melalui pengalaman. Bermain, bergerak, dan bereksplorasi membantu mereka membangun rasa ingin tahu, keberanian mencoba hal baru, kemampuan berpikir, serta keterampilan sosial dan emosional," ujar dr Rini.
Oleh karena itu, menurutnya, bermain perlu menjadi bagian dari keseharian keluarga agar dapat mendukung perkembangan motorik, sosial, emosional, dan kreativitas anak.
Founder MoM Academy serta perwakilan komunitas orangtua Widya Safitri mengakui bahwa banyak keluarga ingin membatasi penggunaan gawai anak, tetapi sering kali kebingungan mencari alternatif aktivitas bermain.
"Saat screen time mulai dibatasi, banyak orangtua bertanya, 'Hari ini main apa, ya?' Melalui Gerakan #BiarkanMerekaBerlari dan Buku Saku Generasi Berani Exploring, kami berharap, semakin banyak orangtua menemukan ide bermain yang sederhana, menyenangkan, dan mendukung tumbuh kembang anak," ujarnya.
Dukung implementasi PP TUNAS
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan, perlindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya mengandalkan regulasi dan teknologi. Pendampingan orangtua tetap menjadi faktor utama agar anak dapat tumbuh dengan sehat di tengah perkembangan era digital.
"Seaman apa pun sebuah platform dirancang, tidak ada algoritma yang dapat menggantikan kehadiran, kasih sayang, keteladanan, dan pendampingan orangtua," tegas Meutya dalam sambutannya di Festival Generasi Berani Exploring.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, ruang eksplorasi anak juga dapat dibangun melalui permainan tradisional atau permainan rakyat yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
“Oleh karena itu kami sangat senang Festival Generasi Berani Exploring dapat mengedepankan dan memajukan permainan tradisional kita," ujarnya dalam pidato sambutan.
Fadli menjelaskan, permainan tradisional menyimpan berbagai nilai, mulai dari kejujuran hingga kerja sama yang tetap relevan bagi anak di era digital. Ia pun mengajak seluruh pihak untuk memberi lebih banyak ruang bagi anak agar bisa menikmati masa kecilnya.
"Biarkan mereka berlari, biarkan mereka bermain, biarkan mereka menjadi anak-anak," tuturnya.
Betadine Clear lengkapi semangat Gen Bening
Semakin banyak anak melakukan aktivitas di luar ruangan, maka semakin besar pula kemungkinan mereka mengalami luka ringan. Oleh karena itu, orangtua perlu memahami cara menangani luka dengan tepat agar anak dapat kembali bermain dan bereksplorasi dengan nyaman.
Medical Affairs Specialist iNova Pharmaceuticals Indonesia dr Fanny Fardhani mengatakan, orangtua tidak perlu membatasi aktivitas anak hanya karena khawatir mereka akan terluka. Menurutnya, hal lebih penting adalah memastikan orangtua siap memberikan penanganan pertama ketika luka ringan terjadi.
"Kalau anak bereksplorasi pasti ada kemungkinan jatuh atau terluka. Yang perlu disiapkan bukanlah membatasi eksplorasinya, melainkan bagaimana orangtua siap menangani luka dengan tepat," ujar dr Fanny dalam sesi talk show “Let Kids Be Kids”.
Ia menjelaskan, penanganan luka ringan dapat dilakukan melalui prinsip 4C, yakni Chill, Clean & Disinfect, Cover, dan Comfort.
Orangtua terlebih dahulu perlu tetap tenang (Chill) agar anak tidak ikut panik. Setelah itu, luka dibersihkan dan diberikan antiseptik (Clean & Disinfect). Kemudian, luka ditutup bila diperlukan (Cover).
Selanjutnya, orangtua memberikan rasa nyaman kepada anak (Comfort) agar mereka kembali percaya diri untuk beraktivitas.
Tahapan tersebut, lanjut dr Fanny, penting dilakukan secara berurutan. Sebab, luka yang langsung ditutup tanpa dibersihkan terlebih dahulu justru dapat meningkatkan risiko infeksi.
“Antiseptik yang digunakan sebaiknya tidak menimbulkan rasa perih, tidak merusak jaringan sehat, dan efektif membantu melindungi luka dari kuman,” terang dr Fanny.
Pada kesempatan itu, Brand Manager Wound Care iNova Pharmaceuticals Indonesia Anastasya Ratu Chaerani mengenalkan, Betadine Clear sebagai antiseptik yang dirancang untuk mendukung anak tetap berani bereksplorasi.
"Nah yang terbaru, ini kami baru saja meluncurkan Betadine Clear. Betadine Clear warnanya bening, enggak perih, dan bocil approved. Artinya, bisa digunakan oleh anak-anak. Pastinya, Betadine selalu menemani di kotak P3K di rumah sehingga bisa memberikan kesiapan untuk orangtua saat mendampingi anaknya bereksplorasi," imbuh Anastasya.
Betadine Clear mengandung bahan aktif octenidine dengan formula bening yang tidak menimbulkan rasa perih saat digunakan pada luka. Produk ini juga diperkaya allantoin yang membantu menenangkan kulit serta dapat digunakan oleh semua usia, termasuk bayi dan anak-anak.
Anastasya berharap, Gerakan Gen Bening tidak berhenti pada penyelenggaraan festival, tetapi terus hadir dalam keseharian keluarga melalui Buku Saku Generasi Berani Exploring.
"Melalui gerakan ini, kami sudah meluncurkan buku saku. Harapannya, buku saku ini dipakai di rumah oleh ibu dan ayah. Isinya 100 ide permainan yang bisa langsung dipraktikkan bersama keluarga. Dengan buku saku ini, kami berharap orangtua memiliki acuan untuk mendampingi anak bereksplorasi bersama," imbuh Anastasya
Buku Saku Generasi Berani Exploring dapat diunduh melalui situs Betadine Indonesia. Betadine berharap, buku tersebut menjadi inspirasi bagi orangtua untuk terus menghadirkan ruang bermain yang aman, menyenangkan, dan bermakna bagi anak, sehingga semangat Gen Bening dapat terus berlanjut meski festival telah usai.