Sempat Berhenti 2 Hari, Donald Trump Ancam Serang Iran Lagi

Sempat Berhenti 2 Hari, Donald Trump Ancam Serang Iran Lagi

  • Donald Trump optimistis diplomasi dengan Iran berpeluang mengakhiri perang berbulan-bulan.

  • Amerika Serikat siap melanjutkan agresi militer jika negosiasi damai mengalami jalan buntu.

  • Iran membantah negosiasi langsung dan menegaskan komunikasi hanya berjalan melalui mediator.

Suara.com - Pemerintah Amerika Serikat memburu kesepakatan damai guna menghentikan perang berbulan-bulan dengan Iran. Namun, Washington menegaskan kesiapan menggempur kembali Teheran jika jalur diplomasi berujung buntu.

Presiden Donald Trump melontarkan sinyal optimistis terkait arah negosiasi terbaru kedua negara. Ia menilai ada celah besar untuk menyepakati penghentian konflik secara permanen.

Sikap lunak tersebut dibarengi gertakan militer yang sangat eksplisit dari Gedung Putih. Trump memastikan gempuran udara akan langsung berlanjut tanpa penundaan bila opsi damai ditolak.

Iran bom Bahrain dan Yordania (Al Jazeera)
Iran bom Bahrain dan Yordania (Al Jazeera)

Di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengungkapkan pandangannya mengenai proses komunikasi yang sedang berjalan. Ia menekankan faktor kesabaran dalam mengawal dinamika negosiasi ini.

"Kita lihat saja apa yang terjadi. Saya pikir ada peluang bagus bahwa sesuatu bisa terjadi," kata Trump kepada wartawan, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (28/7/2026).

Gedung Putih menegaskan bahwa jeda pertempuran bukan berarti operasi militer telah berakhir sepenuhnya. Pihaknya siap mengambil tindakan tegas jika dialog tidak membuahkan hasil nyata.

"Jika tidak, kita kembali melakukan apa yang kita lakukan dua hari yang lalu," imbuh Trump.

Pernyataan keras ini muncul setelah kedua pihak menghentikan kontak tembak selama tiga hari beruntun. Sebelumnya, pertukaran serangan hebat telah berkecamuk selama 13 malam tanpa henti.

Trump mengklaim pihak Teheran yang memprakarsai permintaan untuk membuka ruang pertemuan. Menurutnya, tekanan militer intensif menjadi pemicu utama di baliknya.

Ia berpendapat bahwa "satu-satunya alasan mereka ingin bertemu adalah karena kita telah menyerang mereka dengan sangat keras."

Pihak Iran langsung menepis klaim adanya dialog tatap muka secara langsung dengan pejabat Amerika Serikat. Teheran menegaskan bahwa interaksi sejauh ini hanya berlangsung secara tidak langsung melalui perantara diplomatik.

Perwakilan Teheran menyampaikan bahwa para mediator internasional sekadar meneruskan pesan tertulis yang dikirimkan oleh Washington. Tidak ada negosiasi langsung yang sedang berjalan di antara kedua negara.

Di sisi lain, Trump menepis keraguan publik mengenai potensi krisis amunisi tempur Amerika Serikat. Ia membantah anggapan bahwa kecamuk perang selama lima bulan terakhir telah menguras persediaan persenjataan AS.

"Kita memiliki banyak amunisi," katanya.

"Kita juga memiliki banyak amunisi kelas menengah, lebih dari yang bisa kita gunakan, apa pun yang terjadi," cetusnya.

Konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran telah membara selama lima bulan terakhir dan memicu krisis keamanan regional. Eskalasi semakin memuncak setelah kedua negara saling meluncurkan rudal dan serangan udara selama 13 malam berturut-turut.

Meskipun jeda tembak sementara berlangsung selama tiga hari, ketidakpastian diplomasi tetap membayangi kawasan. Keterlibatan mediator internasional menjadi tumpuan utama untuk mencegah pecahnya perang terbuka yang lebih masif.