KUPANG, KOMPAS.com – Penyidik Polres Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai meminta klarifikasi terhadap tiga anggota DPRD TTU terkait dugaan intimidasi terhadap dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dr. Icha saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu.
Ketiga legislator tersebut, yakni Therensius Lazakar dari Partai Golkar, Norbertus Tubani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Veronika Lake dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). Mereka memenuhi undangan klarifikasi di Mapolres TTU pada Senin (29/6/2026).
Kepala Seksi Humas Polres TTU, AKP Anselmus Pera, mengatakan bahwa pemeriksaan dilakukan dalam tahap klarifikasi atas dugaan intimidasi yang dilaporkan terjadi pada 13 Juni 2026.
“Anggota melakukan wawancara dalam rangka klarifikasi terkait dugaan intimidasi. Untuk wawancara tersebut kami mengundang mereka, yakni tiga anggota DPRD TTU,” kata Anselmus kepada Kompas.com, Senin malam.
Menurut Anselmus, ketiga anggota DPRD telah hadir di Mapolres TTU dan sedang menjalani permintaan keterangan oleh penyidik.
“Mereka sementara diambil keterangan,” ujarnya.
Dia menjelaskan, klarifikasi terhadap para legislator dilakukan setelah penyidik lebih dahulu memeriksa sejumlah saksi yang bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu pada saat insiden terjadi.
Saksi-saksi tersebut merupakan tenaga kesehatan dan petugas yang sedang piket ketika dr. Icha menangani seorang pasien anak korban gigitan ular pada 13 Juni 2026.
“Hasilnya nanti kami laporkan setelah seluruh rangkaian klarifikasi selesai,” kata Anselmus.
Dugaan Intimidasi terhadap dr. Icha
Kasus ini mencuat setelah keluarga dr. Icha mengungkap adanya dugaan adanya intimidasi yang dialami almarhumah saat bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu.
Paman dr. Icha, Victor Manbait, mengatakan bahwa seluruh tindakan medis yang dilakukan keponakannya telah sesuai standar operasional prosedur (SOP) rumah sakit dan arahan dokter spesialis yang menangani kasus gigitan ular.
Namun, situasi disebut berubah tegang ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.
Victor menuturkan, dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian memasuki ruang pelayanan dan mempertanyakan penanganan medis dengan nada tinggi. Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dr. Icha ketika meminta penjelasan.
Menurut Victor, peristiwa tersebut meninggalkan trauma dan tekanan psikologis yang mendalam bagi almarhumah.
“Dokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” ujar Victor.