Alasan Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026

Alasan Presiden UEFA Boikot Final Piala Dunia 2026

KOMPAS.com - Presiden UEFA Aleksander Ceferin tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina di Stadion MetLife, New Jersey, sebagai bentuk protes terhadap penanganan turnamen oleh FIFA.

Timnas Spanyol meraih gelar juara Piala Dunia 2026 usai menghentikan perlawanan Argentina yang dimotori Lionel Messi pada laga final dengan skor 1-0 di Stadion New York, New Jersey, Amerika Serikat, Senin  (20/7/2026).

Gol tunggal pemain Barcelona, Ferran, Torres pada menit ke-106 laga Spanyol vs Argentina tersebut mengantar Spanyol meraih trofi Piala Dunia 2026 yang merupakan gelar juara dunia kedua mereka sepanjang sejarah.

Menurut The Independent, ketidakhadiran Ceferin mencerminkan memburuknya hubungan antara UEFA dan FIFA.

Sejumlah keputusan yang diambil badan sepak bola dunia itu selama Piala Dunia 2026 disebut menjadi sumber ketidakpuasan organisasi sepak bola Eropa tersebut.

Salah satu pemicu utama adalah keputusan Komite Disiplin FIFA yang membatalkan hukuman larangan bermain satu pertandingan bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

Kasus Balogun hingga Dugaan Intervensi Politik

UEFA sebelumnya mengecam keputusan FIFA yang membatalkan hukuman Balogun.

Organisasi tersebut menyebut keputusan itu sebagai langkah yang "belum pernah terjadi sebelumnya, tidak dapat dipahami, dan tidak dapat dibenarkan", serta menilai FIFA telah "melewati garis merah".

Pencabutan hukuman dilakukan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta Presiden FIFA Gianni Infantino meninjau kembali kartu merah yang diterima Balogun.

Penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun merayakan golnya ke gawang Bosnia-Herzegovina di San Francisco Bay Stadium, dalam laga 32 besar Piala Dunia pada 1 Juli 2026.
Penyerang Amerika Serikat Folarin Balogun merayakan golnya ke gawang Bosnia-Herzegovina di San Francisco Bay Stadium, dalam laga 32 besar Piala Dunia pada 1 Juli 2026.

Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemungkinan adanya pengaruh politik dalam proses pengambilan keputusan FIFA.

Di sisi lain, FIFA juga dinilai tidak mampu mencegah otoritas Amerika Serikat memulangkan wasit asal Somalia, Omar Artan, bahkan sebelum turnamen dimulai.

Setelah insiden tersebut, UEFA menunjuk Artan sebagai wasit final Piala Super UEFA yang akan digelar bulan depan.

Iran dan Perubahan Regulasi Jadi Sorotan

UEFA juga menyoroti perlakuan terhadap tim nasional Iran selama Piala Dunia 2026.

Iran disebut menghadapi persyaratan masuk dan keluar Amerika Serikat yang lebih ketat dibandingkan 47 peserta lainnya.

Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, bahkan menyebut timnya sebagai "tim paling tertindas" di Piala Dunia.