JAKARTA, KOMPAS.com - Progres pembangunan MRT Jakarta Fase 2A Segmen 1 untuk paket kontrak (CP) 201 yang mencakup Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas telah memasuki tahap akhir.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta Weni Maulina mengatakan, progres fisik pembangunan kedua stasiun bawah tanah tersebut kini telah mencapai sekitar 93 persen dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027.
"Alhamdulillah kalau untuk CP 201 ini kita sudah di angka 92 menuju ke 93 persen. Jadi sedikit lagi insyaallah tahun depan kita selesai dan akan siap untuk dioperasikan sampai dengan Stasiun Monas ini," ujar Weni kepada wartawan di area proyek Stasiun MRT Monas, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2026).
Weni memastikan Stasiun Thamrin dan Stasiun Monas akan mulai beroperasi secara bersamaan.
Seiring hampir rampungnya pekerjaan sipil, pengerjaan kini difokuskan pada pemasangan berbagai fasilitas penunjang, mulai dari sistem mekanikal dan elektrikal hingga penyelesaian arsitektur dan finishing.
"Jadi saat ini kami juga terus menyelesaikan progres dari stasiun, termasuk sekarang untuk pemasangan mechanical-electrical dan juga arsitekturalnya, finishing," jelasnya.
Dirancang Jadi Stasiun Ikonik
Weni menjelaskan, Stasiun Monas memiliki panjang sekitar 220 meter dengan area peron yang berada di kedalaman 15 hingga 18 meter di bawah permukaan tanah.
Karena berada di kawasan cagar budaya Monumen Nasional (Monas), stasiun tersebut dirancang berbeda dibanding stasiun MRT lainnya dan diposisikan sebagai stasiun ikonik.
"Kalau Stasiun Monas sendiri, keunikannya dia adalah stasiun ikonik sebetulnya. Jadi ini memang kita desain khusus karena masuk ke dalam kawasan heritage, kawasan Monumen Nasional (Monas)," kata Weni.
Untuk menjaga lanskap kawasan Monas, seluruh bangunan pendukung di atas permukaan tanah dibuat tidak menjulang tinggi.
"Karena ini kawasan Monas, jadi kita untuk bangunan-bangunan yang ada di atas permukaan itu tidak kita bikin tinggi, tapi kita bikin istilahnya sunken, seperti entrance ini yang bisa dilihat. Jadi langsung masuk ke area bawah tanah," ucap Weni.
"Kemudian bangunan fasilitas ventilasi, cooling tower, ventilation tower itu juga dibuat semi-sunken. Jadi cukup rendah," sambungnya.
Menurut Weni, pembangunan Stasiun Monas juga menggunakan metode konstruksi yang cukup kompleks karena harus tetap menjaga kelancaran lalu lintas di Jalan Medan Merdeka Barat yang merupakan jalan protokol.
Salah satu tantangannya adalah membangun akses keluar menuju Jalan Museum Nasional tanpa menutup arus kendaraan di atasnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, MRT Jakarta menerapkan metode box jacking, yakni membangun terowongan dari bawah tanah sehingga pekerjaan konstruksi dapat dilakukan tanpa mengganggu lalu lintas di permukaan.