PINTU Menjembatani Mode Indonesia dan Prancis Lewat Kolaborasi

PINTU Menjembatani Mode Indonesia dan Prancis Lewat Kolaborasi

KOMPAS.com - Melalui perayaan JF3 Fashion Festival 2026 yang berlangsung pada 22–29 Juli, PINTU Incubator memperlihatkan bagaimana sebuah kolaborasi dibentuk dari akar hingga membuahkan koleksi yang berwarna di bawah kemilau cahaya lampu runway.

Sebuah pintu menandai perpindahan dari satu ruang ke ruang lain, dari satu pertemuan ke pertemuan lainnya.

Selama lima tahun terakhir, PINTU Incubator berupaya menyusun balok demi balok fondasi ini. Program kolaborasi Indonesia dan Prancis yang diusung PINTU mempertemukan desainer dari dua negara, juga membuka ruang bagi para talenta untuk bertukar gagasan dan tumbuh bersama.

Bagi Co-Initiator PINTU Incubator sekaligus Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, perjalanan seorang desainer tidak pernah sesederhana menghasilkan koleksi yang baik. Ada proses kreatif di balik itu yang harus dipahami oleh seorang desainer.

"Kami percaya bahwa talenta tidak selalu tumbuh karena diberi lebih banyak jawaban. Sering kali, mereka justru berkembang ketika dipertemukan dengan pengalaman, sudut pandang, dan pertanyaan yang tepat," ujar Thresia.

PINTU dirancang sebagai tempat yang menawarkan ruang bagi setiap desainer untuk mengenali kekuatan, mengevaluasi proses yang telah mereka jalani, lalu menentukan sendiri arah perkembangan jenama mereka.

"Karena pada akhirnya, yang kami harapkan bukan hanya lahirnya koleksi yang baik, tetapi pelaku mode yang mampu terus bertumbuh dan menentukan langkahnya sendiri," lanjut Thresia.

Foto Bersama Dengan Para Narasumber. (Ki-Ka) Carol Meyer (Cultural Attaché at the French Embassy in Indonesia and Representative of Institut Français d'Indonésie), Thresia Mareta ( Co-Initiator PINTU dan Founder LAKON Indonesia), Bpk. Soegianto Nagaria (Chairman of JF3 & Co- Co-Initiator PINTU)
Foto Bersama Dengan Para Narasumber. (Ki-Ka) Carol Meyer (Cultural Attaché at the French Embassy in Indonesia and Representative of Institut Français d'Indonésie), Thresia Mareta ( Co-Initiator PINTU dan Founder LAKON Indonesia), Bpk. Soegianto Nagaria (Chairman of JF3 & Co- Co-Initiator PINTU)

Pandangan tersebut menjadi fondasi yang juga dipegang Chairman JF3 sekaligus Co-Initiator PINTU Incubator, Soegianto Nagaria. Baginya, sebuah panggung peragaan busana hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan panjang seorang pelaku mode.

"Sejak awal, JF3 tidak hanya ingin menyediakan panggung, tetapi juga menjadi bagian dari proses pertumbuhan para pelaku industri," tutur Soegianto.

Tahun ini, PINTU menghadirkan 39 sesi pengembangan kapasitas bersama 18 mentor dari Indonesia dan Prancis yang membahas desain, strategi bisnis, merchandising, komunikasi, hukum, keuangan, hingga ekspor-impor.

Dari 39 peserta yang lolos seleksi, lima di antaranya terpilih menampilkan koleksi di JF3 Fashion Festival 2026, yakni Saul Studio, Toja House, ALDRIE, ANDREAN NR, dan DACIA.

Ketika dua individu bertemu menciptakan satu bahasa

Foto Bersama Para Narasumber Dengan Indonesia Mentor, Incubees, Accelerator, dan Residents
Foto Bersama Para Narasumber Dengan Indonesia Mentor, Incubees, Accelerator, dan Residents

Di balik koleksi yang nantinya tampil di atas runway, ada proses yang dimulai dari dua orang yang bahkan belum pernah saling mengenal sebelumnya.

Hal ini lah yang dialami oleh Gabriel Marcella dari Indonesia dan Lisa Rayar dari Prancis dalam program PINTU Residency.

Sebelum bertemu langsung pada awal April, keduanya hanya sempat berdiskusi secara daring dari dua negara yang berbeda demi menghemat waktu selama program residensi yang hanya berlangsung empat bulan.

"Kami sudah mulai berkomunikasi sejak akhir Maret. Kami berdiskusi saat dia masih berada di Prancis dan saya masih di Semarang. Kami mulai dengan mencari inspirasi dan membahas bagaimana proses pengerjaannya," ujar Gabriel kepada Kompas.com dalam konferensi pers yang digelar di Gafoy Workshop, Summarecon Mall Kelapa Gading pada Senin (20/07).