Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pemerintah tetap menjaga harga BBM bersubsidi seperti Pertalite, meski harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel.
Purbaya mengatakan kenaikan harga minyak dunia memang akan mempersempit ruang fiskal pemerintah. Namun, kondisi tersebut tidak membahayakan APBN karena pemerintah sebelumnya juga telah menyusun asumsi harga minyak di kisaran US$100 per barel.
"BBM non-subsidi kan memang tidak disubsidi, terserah Pertamina. Kalau yang subsidi akan kita jaga terus," ujar ditemui di Kementerian Keuangan, Jumat (24/7).
Ia mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto telah meminta jajaran kementerian melakukan simulasi berbagai skenario harga minyak dunia, termasuk apabila melampaui US$100 per barel. Hal ini dikarenakan konflik di Timur Tengah yang makin memanas.
"Cuma kemarin di rapat kabinet Presiden meminta kami melakukan simulasi untuk harga minyak dengan skenario yang berbeda. Bukan US$100 saja atau lebih, jadi bagaimana anggarannya. Jadi sedang kita hitung tadi," jelasnya.
Menurut Purbaya, kenaikan harga minyak ke level US$100 bukan kondisi baru bagi pemerintah. Sebab, angka tersebut sebelumnya sudah menjadi asumsi dalam penyusunan anggaran sehingga pemerintah tinggal melakukan penyesuaian.
Ia juga memastikan kemampuan APBN untuk menopang subsidi energi masih tetap kuat meski ruang belanja pemerintah menjadi lebih terbatas.
Purbaya mengakui saat harga minyak sempat turun, pemerintah melihat peluang untuk menambah belanja ke daerah maupun kementerian dan lembaga. Namun, kenaikan harga minyak saat ini membuat ruang fiskal tersebut menyempit.
"Tadinya kan ketika harga minyak turun saya pikir ada ruang untuk nambah belanja ke daerah dan lain-lain, termasuk kementerian dan lembaga. Artinya sekarang kalau balik lagi ke situ ya ruangnya semakin terbatas saja, tapi tidak membahayakan APBN sendiri. Karena ini bukan keadaan baru kan?" ujar Purbaya.
Harga minyak dunia kembali menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya dalam dua bulan, Kamis (23/7). Kenaikan itu menyusul konflik baru di Timur Tengah yang mengancam akan memperburuk gangguan pasokan minyak global.
Dikutip dari CNN, harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan minyak global, naik sekitar 7 persen menjadi US$100,69 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi Brent sejak 22 Mei.
Sementara WTI, yang menjadi patokan Amerika Serikat, naik 6,17 persen, menjadi $92,19 per barel. Ini adalah penutupan tertinggi WTI sejak 4 Juni.