JAKARTA, KOMPAS.com - Di balik gemerlapnya bangunan pusat perbelanjaan yang menjulang tinggi di kawasan Pademangan, Jakarta Utara, terdapat sebuah kampung yang nyaris tak pernah lagi merasakan hangatnya matahari.
Kampung yang jarang tersentuh cahaya matahari itu berada di RW 05, Kelurahan Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, yang dikepung oleh beberapa bangunan beton tinggi seperti WTC Mangga Dua, Grand Boutique Center, hingga kompleks ruko tekstil Mangga Dua.
Pengamatan Kompas.com di lokasi, pemukiman ini berada persis di belakang Grand Boutique Center dan berseberangan langsung dengan pusat perbelanjaan WTC Mangga Dua.
Jarak pemukiman minim cahaya matahari tersebut dengan WTC Mangga Dua kurang lebih hanya sekitar 500 meter yang dibatasi oleh rel kereta api Stasiun Kampung Bandan.
Deretan bangunan tinggi yang berada di sekelilingnya seolah menghambat matahari menyinari kampung tersebut setiap harinya.
Sempat ada penggusuran
Di RW 05 sendiri terdiri dari tiga RT yakni 11, 12, dan 13, yang kondisinya tak jauh berbeda, sama-sama padat, gelap, dan berada dekat bantaran rel kereta.
"Kalau di RT 11 saja ada sekitar 200 kepala keluarga (KK). RT 12 juga hampir sama banyaknya. Kalau RT 13 sudah agak berkurang jumlahnya karena sempat terjadi kebakaran," ucap salah satu warga yang sejak lahir tinggal di kampung tersebut bernama Ahmad (53) ketika ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (20/7/2026).
Ayah satu orang anak itu bercerita, dulu di kawasan ini terdapat dua wilayah yakni RW 05 dan 07 yang saling berseberangan dan dibatasi oleh rel kereta api Stasiun Kampung Bandan.
Namun, wilayah RW 07 sudah digusur dan kini lahannya sudah dibangun menjadi WTC Mangga Dua yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan ternama di Jakarta.
"Setelah digusur, ada sebagian warga yang pindah ke Bekasi atau daerah lain. Kalau saya masih tetap di lingkungan sini, hanya pindah ke sebrangnya (RW 05)," sambung dia.
Warga lain, Santo (57), juga mengatakan bahwa sekitar 1990-an sebagian rumah di wilayah RW 05 sudah digusur, karena lahannya dibeli pengembang swasta.
Sebagian lahan pemukiman warga yang sudah digusur itulah dibangun kompleks ruko komersial.
"Pemukiman warga sudah ada, tapi dulu lebih padat. Sekarang banyak yang sudah dibongkar untuk dijadikan gedung," tutur dia ketika ditemui di lokasi, Senin.
Meski sudah dibeli, kata Santo, pengembang swasta tersebut belum bisa memanfaatkan lahan di RW 05 secara menyeluruh, karena terlibat sengketa dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Mengingat lahan tersebut bersebelahan langsung dengan rel kereta api yang kini hanya dibatasi pagar besi berwarna hijau.