Pantau - Kementerian Kesehatan berhasil menarik investasi asing berskala besar di sektor hilirisasi industri kesehatan, khususnya plasma darah dan vaksin, sebagai bagian dari pilar Ketahanan Kesehatan dalam Transformasi Kesehatan untuk memperkuat kemandirian produksi obat dan vaksin di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah pada 2026 mengamankan komitmen investasi dari perusahaan asal Jepang, Takeda, untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah.
Budi menjelaskan percepatan hilirisasi dilakukan sebagai respons atas pengalaman selama pandemi COVID-19 ketika Indonesia mengalami kelangkaan alat pelindung diri, masker, reagen PCR, vaksin, dan obat-obatan esensial akibat ketergantungan pada produk impor.
Ia mengungkapkan, "Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan harus membayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP), seperti Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9."
Kemenkes Percepat Kemandirian Industri Plasma
Budi mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi Plasma Derived Products (PDP) secara mandiri karena memiliki ketersediaan bahan baku darah yang melimpah.
Ia mengungkapkan, “Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi.”
Kemenkes telah merelaksasi regulasi pembangunan pabrik plasma sejak 2023 sehingga menarik investasi perusahaan biofarmasi Korea Selatan, SK Plasma, yang bermitra dengan Indonesia Investment Authority (INA).
Pabrik SK Plasma senilai 300 juta dolar Amerika Serikat dengan kapasitas produksi 600 ribu liter per tahun telah selesai dibangun pada 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi penuh pada 2027 setelah memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Industri Vaksin Nasional Terus Diperkuat
Selain industri plasma darah, Kemenkes juga mendorong operasional dua pabrik vaksin dalam negeri, yakni PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia.
PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia juga mengembangkan Vaksin Merah Putih yang merupakan hasil penelitian dalam negeri.
Budi mengatakan, "Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi bertindak nyata membenahinya. Lewat berdirinya fasilitas produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, dipastikan ketersediaan obat dan vaksin rakyat ke depan akan selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri."