Dunia di Ambang Krisis? Ancaman Blokade Laut Houthi Ancam Pasokan Minyak Global

Dunia di Ambang Krisis? Ancaman Blokade Laut Houthi Ancam Pasokan Minyak Global

  • Harga minyak mentah dunia cenderung melandai pada Selasa (21/7/2026) karena adanya ketidakpastian geopolitik di wilayah Timur Tengah.
  • Kelompok Houthi mengancam blokade jalur laut Arab Saudi yang berpotensi mengganggu pasokan energi dan arus perdagangan global.
  • Upaya diplomasi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor penahan kenaikan harga minyak jangka pendek.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia bergerak melandai pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Para pelaku pasar saat ini tengah mempertimbangkan laporan upaya mediasi diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran di satu sisi, melawan eskalasi serangan balasan kedua negara serta ancaman blokade jalur laut terhadap Arab Saudi oleh kelompok Houthi dari Yaman di sisi lain.

Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent terkoreksi tipis 35 sen atau 0,4 persen ke posisi USD 88,87 per barel pada pukul 00.52 GMT.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman September diperdagangkan stabil di level USD 82,47 per barel. Kedua patokan harga tersebut diperdagangkan di bawah level tertinggi bulanan yang sempat tersentuh pada sesi sebelumnya.

Dari kawasan Timur Tengah, kelompok Houthi Yaman yang beraliansi dengan Iran menyatakan pada hari Senin bahwa mereka akan menerapkan blokade jalur laut terhadap Arab Saudi.

Langkah ini berpotensi membuka front pertempuran baru melawan AS dalam konfrontasinya dengan Iran, sekaligus meningkatkan ancaman terhadap pasokan energi dan arus perdagangan global di luar wilayah Teluk.

Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer, memberikan pandangannya terkait potensi bahaya dari perkembangan geopolitik tersebut.

"Ancaman blokade laut terhadap Arab Saudi oleh Houthi sangat signifikan karena meningkatkan risiko gangguan pada eksportir minyak utama lainnya," kata Tim Waterer.

Di sisi lain, seorang pejabat senior Iran mengonfirmasi kepada Reuters bahwa Teheran telah menerima usulan dari pihak penengah terkait rancangan gencatan senjata selama 10 hari.

Langkah ini dilakukan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara yang ditandatangani pada 17 Juni, guna membuka jalan bagi perjanjian permanen demi mengakhiri perang yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Iran sejak 28 Februari lalu.

Dorongan diplomasi ini mengemuka setelah rangkaian serangan udara AS kembali menghantam kota-kota di Iran, yang dibalas oleh Garda Revolusi Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan regional.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi telah memulai gelombang serangan lanjutan ke wilayah Iran pada Senin malam.

Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai isu perdamaian menjadi penahan laju kenaikan harga untuk jangka pendek.

"(Minyak) telah melonjak cukup jauh dan tentu saja memiliki potensi untuk naik lebih tinggi lagi. Namun, dalam jangka pendek, pembicaraan de-eskalasi dan pembicaraan damai semalam tampaknya membatasi kenaikan untuk sementara waktu. Apakah ada hasil dari pembicaraan damai tersebut masih harus dilihat," kata Tony Sycamore, dikutip dari Reuters.

Dari sisi pasokan domestik AS, survei awal Reuters menunjukkan perkiraan penurunan stok minyak mentah dan bensin AS pada pekan lalu, sementara persediaan produk distilat diperkirakan mengalami peningkatan.