Dari Bocor dan Pengap Menjadi Layak Huni, Nuriyah dan Alin Rasakan Dampak BSPS

Dari Bocor dan Pengap Menjadi Layak Huni, Nuriyah dan Alin Rasakan Dampak BSPS

Senyum tak lepas dari wajah Nuriyah (48) saat berdiri di depan rumahnya. Rumah warisan orang tua yang selama bertahun-tahun ditempati bersama keluarganya itu kini tampak jauh berbeda.

Atap yang dulu bocor telah berganti baru. Lantai yang rusak diperbaiki, dan jendela yang sebelumnya tak bisa dibuka kini menghadirkan sirkulasi udara ke dalam rumah.

Perubahan itu merupakan hasil Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) atau bedah rumah dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), yang sedang dilakukan di area Nuriyah tinggal, Kelurahan Kalianyar, Tambora, Jakarta Barat.

Bagi Nuriyah, rumah itu bukan sekadar bangunan. Di sanalah ia membesarkan keluarganya bersama sang suami dengan penghasilan yang tak menentu.

Sebelum direnovasi, kondisi rumahnya jauh dari kata layak hingga kerap menjadi bahan hinaan orang lain.

“Semulanya sih ya parah ya, sampai orang menghina gitu. Tapi sekarang alhamdulillah rumah saya sudah kayak gini,” ujar Nuriyah saat ditemui di lokasi, Kamis (23/7).

Ia juga bercerita, setiap musim hujan datang ia harus menghadapi kebocoran di berbagai sudut rumah. Air hujan merembes ke dalam rumah hingga membuat aktivitas keluarganya terganggu.

“Sebelumnya bocor, parah. Kalau hujan banjir, rembes,” katanya.

Tak hanya atap yang rusak, rumah Nuriyah juga memiliki jendela yang tidak bisa dibuka sehingga sirkulasi udara sangat minim.

“Jendelanya tuh mati, enggak bisa dibuka. Sekarang sudah bisa dibuka, sirkulasinya biar angin keluar masuk,” ujarnya.

Nuriyah mengaku sempat ragu saat pertama kali ditawari mengikuti program BSPS. Namun setelah petugas melakukan pendataan dan menjelaskan mekanismenya, ia memutuskan ikut serta meski tetap harus menambah biaya secara swadaya.

Kini, rumahnya hampir selesai direnovasi. Kebahagiaan itu juga dirasakan anak-anak dan suaminya.

“Oh senang sekali, senang sekali,” kata Nuriyah saat menceritakan respons anak-anaknya melihat rumah mereka yang kini jauh lebih layak.

Di rumah lain yang hanya berjarak beberapa puluh meter, Alin (67) menyambut dengan wajah semringah saat huniannya didatangi.

Bertahun-tahun ia tinggal bersama anak dan menantunya di rumah yang lebih rendah dibanding bangunan di sekelilingnya.

Saat hujan turun, air kerap merembes dari berbagai sisi atap, sementara posisi rumah yang terhimpit bangunan lain membuat suasana di dalam terasa pengap.

“Dulu rumah saya ini pendek banget bangunannya. Karena rendah itu, kalau hujan jadi bocor di mana-mana, sebelah kiri bocor, sebelah kanan juga bocor. Terus karena posisi rumah saya pendek sendiri, rasanya kayak kegencet sama bangunan tinggi di kiri sama kanan,” tutur Alin.

Melalui program BSPS, rumah Alin kemudian ditinggikan. Ia juga menambah biaya renovasi secara swadaya agar hasil pembangunan bisa lebih maksimal. Kini, ia tak lagi khawatir saat hujan datang.

“Sekarang mah alhamdulillah sudah nggak pendek lagi rumahnya, sudah ditinggiin. Lumayan sekali perubahannya, sekarang kalau hujan sudah nggak bocor-bocor lagi,” ujarnya.

Tak hanya rumahnya yang berubah, lingkungan di depan rumah juga ikut dibenahi. Menurut Alin, saluran air yang diperbaiki membuat genangan yang dulu sering muncul kini tak lagi terjadi.

“Yang paling enak sekarang sudah nggak banjir lagi. Got di depan juga sudah diperbaiki, jadi airnya lancar,” katanya.