KOMPAS.com - Derap langkah tegas dari para model diiringi oleh irama musik yang terasa arkais dengan tabuhan dan gemuruh terompet. Sementara, pencahayaan di sekitar runway tampak seperti kabut yang melingkupi pegunungan.
Atmosfer pertunjukan fesyen bertajuk Garuda persembahan desainer Prancis Mickael Nana dan desainer Tanah Air Beatrice Angelica itu terasa masuk akal ketika akhirnya penonton dapat melihat rancangan koleksi mereka secara saksama.
Mempersembahkan Garuda dalam lanskap warna bumi
Garuda yang dihadirkan oleh desainer yang tergabung dalam program PINTU Residency Program itu jauh dari kesan harfiah. Tak ada sayap raksasa atau kostum teatrikal yang secara gamblang menirukan burung mitologi tersebut.
Sosok Garuda dibangun oleh keduanya secara perlahan melalui palet warna yang mengingatkan pada bentang alam Nusantara, mulai dari cokelat tanah, tan, arang, tanah merah, hingga gading.
Sepuluh tampilan siap pakai yang terbagi seimbang antara busana pria dan perempuan ini lahir dari tiga tekstil tenun eksklusif, yang dikembangkan bersama para perajin perempuan Lombok menggunakan teknik songket dan tenun tradisional, lalu dipadukan dengan denim, beludru, hingga material teknis untuk menghasilkan siluet yang kokoh sekaligus kaya tekstur.
Rujukan visual mereka pun berasal dari berbagai penjuru. Foto-foto arsip Indonesia pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, yang menjadi titik berangkat untuk melihat bagaimana tradisi busana lokal pernah hidup berdampingan secara alami dengan pengaruh Eropa.
Teknik draping tradisional, kain lilit, dan tailoring era 1970-an hingga 1980-an kemudian bertemu dengan referensi budaya populer dari sosok seperti Lenny Kravitz, Erykah Badu, dan Lauryn Hill.
Benang merah tersebut tampak jelas ketika Yanu, model pria pemenang JF3 Model Search 2025, melangkah di runway JF3 Fashion Tent, Summarecon Mall Kelapa Gading pada Kamis (23/07).
Ia tampak mengenakan jubah panjang bermotif tenun yang menjuntai hingga mata kaki, dipadukan dengan celana bermotif senada. Potongannya sederhana, tetapi kerumitan motif membuat busana itu terasa monumental.
Bahkan ketika Yanu berderap, bobot kain tenun membuat jubahnya nyaris tak berkibar mengikuti arah langkah, menciptakan kesan tegak nan teguh.
Sepanjang koleksi, Mickael dan Beatrice juga terus-menerus memainkan struktur. Keduanya tampaknya gemar menyelipkan desain asimetri di sebagian besar tampilan.
Memasuki pertengahan pertunjukan, ritme sengaja dipatahkan dengan kemunculan jaket asimetris berwarna kuning neon yang dipadukan dengan kain lilit berwarna netral di pinggang.
"Pada dasarnya, aku ingin semua koleksiku, terutama yang kubuat bersama Beatrice, punya ritme. Buatku, sebuah koleksi itu benar-benar seperti sebuah cerita yang kita jalani, dan setiap adegannya enggak harus terlihat sama," jelas Mickael kepada Kompas.com saat ditemui dalam acara Re-See French Designers x Residency, Senin (27/07).
"Justru memang enggak boleh semuanya sama. Kalau semuanya seragam, jadinya enggak menarik. Orang juga enggak akan merasakan keseluruhan ceritanya," sambungnya.