TMMIN: Industri Otomotif Indonesia Masih Tangguh

TMMIN: Industri Otomotif Indonesia Masih Tangguh

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menilai bahwa industri otomotif nasional masih memiliki daya tahan yang kuat di tengah perlambatan penjualan kendaraan dalam beberapa tahun terakhir.

Besarnya pasar domestik dan konsistensi ekspor dinilai masih menjadi modal utama untuk menjaga kinerja industri.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam mengatakan, penurunan penjualan kendaraan memang memberi tekanan terhadap industri komponen. Namun, kondisi tersebut belum mencerminkan melemahnya fundamental industri otomotif Indonesia.

Booth Toyota di IIMS 2024
Booth Toyota di IIMS 2024

"Industri otomotif punya resiliensi yang bagus. Kita punya pasar ekspor yang capai 500.000 unit dan ini menolong di saat domestik melambat. Pasar domestik kita juga besar," ujar Bob dihubungi Kompas.com, Senin (29/6/2026).

Meski demikian, Bob mengingatkan bahwa tantangan terbesar justru berada di sektor komponen.

Sebab, industri ini merupakan tulang punggung otomotif karena menyumbang sekitar 75 persen dari rantai nilai (value chain) industri.

Industri Komponen Tertekan di Masa Transisi EV

Bob menjelaskan, produsen komponen saat ini menghadapi tekanan berlapis.

Selain merupakan industri yang padat modal dan padat karya, pelaku usaha juga harus menanggung kenaikan biaya tenaga kerja, tarif energi, hingga kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas produksi.

Di saat yang sama, sebagian besar industri komponen di Indonesia masih memproduksi komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE). Sementara pasar otomotif mulai bergeser ke kendaraan listrik.

"Hampir 100 persen pabrik komponen kita adalah komponen ICE. Belum ada komponen mobil listrik," kata Bob.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat industri komponen belum menikmati pertumbuhan pasar kendaraan listrik.

Dari sekitar 800.000 penjualan mobil baru di Indonesia, sekitar 200.000 unit kini berasal dari kendaraan listrik. Akibatnya, permintaan komponen ICE ikut menurun, sementara industri lokal belum banyak masuk ke rantai pasok kendaraan listrik.

"Inilah yang disebut pabrik komponen berdarah-darah," ujarnya.

Ekspor mobil Toyota
Ekspor mobil Toyota

Arah Kebijakan

Bob juga menilai kepastian arah kebijakan pemerintah menjadi faktor penting.

Pasalnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diberikan kepada kendaraan listrik, sementara ekosistem komponen EV masih didominasi negara lain.

Karena itu, ia mendorong agar pengembangan kendaraan listrik tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan, tetapi juga mempercepat lokalisasi industri komponen.

"Yang harus dibicarakan adalah industri komponen apa yang akan dilokalisasi di Indonesia. Kemudian bagaimana dia berkolaborasi dengan industri komponen yang sudah ada. Baru itu namanya positive cycle," kata Bob.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app

Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat

Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app