YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto, memilih tidak mencari sosok yang memasang alat pelacak di mobil yang digunakannya.
Menurut Tiyo, tindakan itu tidak perlu dilakukan karena pesan dari pemasangan alat pelacak tersebut sudah sangat jelas, yakni pergerakannya sedang dipantau.
"Dan oleh karena itu, saya juga tidak mau disibukkan untuk mencari siapa yang melakukan ini," ujar Tiyo Ardianto saat ditemui di Gadjah Mada University Club, dikutip dari Kompas.com, Kamis (25/6/2026).
Ia menilai, alat pelacak bisa saja dipasang oleh pihak yang memiliki kekuasaan ataupun oleh pihak lain yang ingin membenturkan dirinya dengan penguasa.
Alasan Tiyo Enggan Mencari Pelaku
Alih-alih mengusut siapa pelakunya, Tiyo mengaku tidak ingin disibukkan untuk mencari sosok yang memasang alat pelacak.
Baginya, yang jauh lebih penting adalah masyarakat mengetahui bahwa kejadian itu benar-benar terjadi.
"Saya pribadi mengabaikannya semua, yang penting rakyat tahu bahwa peristiwa ini terjadi dan itu menjadi alarm bagi demokrasi, bahwa mereka yang peduli pada bangsa justru dibayang-bayangi oleh bahaya," ungkap Tiyo.
Atas pertimbangan itu pula, Tiyo memastikan tidak akan membuat laporan kepada kepolisian terkait penemuan alat pelacak tersebut.
"Ya saya kira kalau harus melaporkan polisi terlalu banyak hal yang harus saya laporkan," katanya.
"Di banyak tempat, ketika saya keliling ke daerah-daerah itu, kan pengalamannya macam-macam juga. Kalau harus saya laporkan, terlalu banyak," tambah Tiyo.
Alat Pelacak Ditemukan di Bawah Mobil
Sebelumnya, Tiyo mengunggah video melalui akun Instagram pribadinya yang memperlihatkan proses pemeriksaan bagian bawah mobil yang dikendarainya.
Dalam video tersebut, ia menemukan sebuah benda yang kemudian disebut sebagai alat pelacak bernama PBX Finder. Tiyo mengatakan, peristiwa itu terjadi pada 13 Juni 2026.
"Itu mobil saudara yang saya pinjam untuk bepergian sejak merasa tidak aman," ujar Tiyo dikutip dari Kompas.com, Minggu (14/6/2026).
Tiyo menjelaskan, alat pelacak itu baru terdeteksi saat ia dalam perjalanan pulang dari Gejayan.
Ia tidak mengetahui siapa sosok yang memasang alat pelacak. Menurutnya, peristiwa ini menunjukkan adanya ancaman bagi seseorang yang mencintai bangsanya.
"Kita beri ia obat untuk penyakit-penyakitnya, tapi ia justru mencoba meracuni kita," imbuh Tiyo.
(Sumber: Kompas.com/Wijaya Kusuma | Editor: Vachri Rinaldy Lutfipambudi, Dani Prabowo).
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang